08) BYTE 32 TIME 24 ms TTL 52

blank on     OLYMPUS DIGITAL CAMERA  336396_3861816357502_323015812_o

“Karena dunia adalah berlari, saat kita terpaku diam diri, samalah kita bodohkan diri…” (PHOE)

Judul di atas adalah notasi kecepatan internet Jepang yang baru saya mudheng tadi malam. Sebagai guru, kami sadar bahwa kami bukanlah yang terpandai bagi murid-murid kami. Kemajuan informasi dan teknologi yang dahsyat saat-saat ini seringkali menjadikan murid melaju lebih cepat wawasannya. Dan meskipun kami sadar akan hal itu, dan menerimanya dengan lapang dada, tetap saja, penemuan bahwa ternyata murid-murid kami dulu telah melesat jauh adalah kejutan yang mengasikkan. Melesat dalam hal wawasan dan juga melesat dalam hal keputusan menjadi dewasa. Dan, lagi-lagi malam tadi, saya merasakannya karena saya dikejutkan oleh ‘gerombolan’ saya dulu, yang selama ini memang jarang saya sebut, ketika salah satu dari mereka yang bernama Yayan (foto anak yang susah dikatakan tampan yang bersedekap di foto pertama) mengajari saya tentang cara melihat kecepatan internet Jepang.

Saya mengajar di sebuah SMA pinggiran, yang meskipun sudah berdiri lama, sepertinya masih sering dipandang sebelah mata jika sedang berkegiatan ke kota kabupaten. Dan foto di atas adalah foto sebuah grup band sekolah yang sering ‘menyusahkan’ saya sejak 2007 hingga 2010. Foto di atas di ambil di bulan April 2010 saat mereka mengikuti lomba band di Diknas Ngawi. Bertahun-tahun penampilan mereka selalu mendapat aplaus riuh dari penonton, tapi anehnya mereka tidak pernah menang. Kenapa? Karena saya membiarkan mereka melabrak aturan. “Asal kalian yakin, labrak saja, dan yang penting kita bisa memberikan kesan lain pada penonton bahwa kita berbeda,” selalu itu yang saya bilang saat mereka mengaransir ulang (lebih tepatnya mengacak-acak) aransemen lagunya Katon Bagaskara, Coklat, atau yang lain. Dari kiri ke kanan di foto, Yayan si basis gila, Dewi Citra dengan rambut panjangnya dan Debora yang suaranya tak kalah dengan Gita Gutawa, Wahyu yang melodi gitarnya luar biasa cepat, Jaya yang permainan drumnya sangat variatif, dan Teguh sang vokalis ‘ndeso’ selalu memberikan hal lain di dalam penampilan2 nya. Di sebuah lomba lagu nasionalisme, suatu ketika pernah mereka menyelipkan puisi oleh Dewi Citra, diiringi harmonika oleh Wahyu. Hasilnya? Aplaus membahana, dan lagi-lagi, gelar juara tidak didapat, karena aturan jumlah personil maksimal kami langgar.. hehehe… Suatu ketka, lagu ‘Yogyakarta’ milik KLA juga diacak-acak dengan permainan gitar si Wahyu. Lagi-lagi aplaus membahana, tapi lagi-lagi kalah. Kenapa? Selain karena juri-jurinya penyuka musik klasik, juga karena kami melanggar aturan kostum.. hehehe….

Sebelum kelulusan mereka Juni 2010, si Yayan yang saking gak mudhengnya sama pelajaran membuat sebuah film indie dengan kamera HP-nya. Banyak orang mencibir dia dan teman-temannya saat itu, tapi itulah anak-anak saya, selalu melawan.  Dan, sekarang, 2 tahun berlalu dari kelulusan mereka, mereka telah melesat di jalannya masing-masing. Si Yayan adalah seorang fotografer yang juga kuliah di jurusan IT di Jogja, Dewi Citra yang membuka industri kecil kue-kue bersama ibunya tentunya dengan masih aktif di gereja, Debora yang putrinya bapak pendeta itu saat ini sedang menyelesaikan skripsi di Bahasa Ingris UNS (kok bisa2nya dia ke situ ya?), Wahyu yang sudah resmi bekerja di PT. Pos cabang dekatnya Bu Sri Rukmini, Jaya yang masih konsisten tampannya, dan Teguh yang saya dengar sedang juga bersiap berangkat ke Jepang.

Di buku Daftar Kejutan saya ini, masih banyak murid-murid lain yang mengejutkan saya. Seperti halnya Firda Aprianisa, yang nyasar ke UI Jurusan Bahasa Jerman, yang tiba-tiba saja nongol konferensi di Singapura, atau si Pendiam Budi yang tentara yang tiba-tiba saja saya dengar sedang tugas misi perdamaian di Lebanon, atau Yaenal Zamrin si anak lusuh yang tiba-tiba nongol dengan web terbarunya, atau juga kejutan dari Fafa Mustofa yang kuliah di UIN Yogyakarta yang tiba-tiba nginbox saat chat Facebook, “Om, ini mau berangkat nganter donat2 dan koran ini dulu, terus langsung kuliah. Off dulu ya, Om…”

Indahnya jadi guru, meskipun kadang tidak indah jadi PNS…

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s