05) DI JEPANG AKU KONYOL

PART 1: SALAH PAHAM

Setiba di Asrama, setelah nyasar hampir 2 jam, saya merasa haus. Kebetulan air botol diserahkan ke petugas Bandara Narita tadi pagi. Setelah sekian lama ditunjukkan macam-macam fasilitas di Asrama, saya tanya ke Takeshi Mori-san, supporter saya yang santun (kayaknya keturunan bangsawan jangan-jangan dia nih..).

“Excuse me, is it okay to drink the water in the rest room?” tanya saya dengan haus mode on.

“Aa, you mean, tap water? Yes, you can drink that,” jawabnya. Lalu raut mukanya tiba-tiba berubah jadi cemas. “Is it okay for you drink that? Or, if you are not sure, we can buy that in that store.”

Ampun dah, saya jadi merasa tidak enak sama Takeshi-san. Sangkanya dia, saya adalah orang yang sangat higienis, dan dia mungkin menyangka juga bahwa orang Indonesia tidak minum dari kran secara langsung karena orang Indonesia terlalu higienis..! Sambil jawab ‘no’, saya langsung ijin sebentar ke rest room, lalu minum sepuasnya dari kran. Soalnya tadi sempat lihat di jalan, sebotol air mineral 168 yen (17.000-an rupiah) sih.. Yang ini kan gratis hehehe…

PART 2: KEBAIKAN PUN HARUS TOTAL

Pesan dari Mr. Noburo Nomuru, Konsul Jenderal Jepang di Surabaya, saat jamuan makan siang 2 minggu sebelum orientasi di kedutaan saya ingat betul. Apalagi tadi malam, bapak-bapak PPI di pengajian semalaman menekankan pentingnya menunjukkan imej baik dari budaya-adab Indonesia dan kemusliman kita. Dan siang ini, alhamdulillah saya bisa melakukannya.

Sepulang dari Golden Market di Sakaemachi, saya, Mas Najib (UNDIP Semarang, S3 Geologi) dan senpai kami, Pak Effendi (UNP Padang, S3 Kimia) berjalan kaki menuju stasiun subway. Tiba-tiba seorang ibu meyalip saya dari sisi kanan. Tas pink yang dia bonceng terjatuh, dan dia tidak menyadarinya. Jalanan agak sepi, saya langsung teriak, “SUMIMASEN…!” karena saya tidak tahu cara bilang, “Wooooi, tasmu jatuh tuh lhooooohhh..!”

Langsung saya lari, karena sebentar lagi ibu itu menyeberang jalan. Agak jauh sih..

“Sumimasen, kore wa anata no kaban.. hahh, hahh….” kata saya sambil menyerahkan tas itu.

Ibu itu membungkuk-bungkuk berterima kasih dengan seragkaian kata yang saya tidak mudheng. Saya bantu ibu itu menali kembali tasnya di boncengan sepeda.

Membantu pun harus total.

Saya lalu berjalan kembali menuju Mas Najib dan Pak Effendi yang jauh di belakang. Dengan membawa perasaan agak puas (astaghfirullah, riya’ gak ya nih?), karena saya bisa ngasih tahu ibu itu bahwa watashi wa Indoneshia kara kimashita yo… yang dulu intens belajar PMP waktu SD.. Semangat, Indonesia..!

PART 3: WARNA-WARNI JEPANG

Saat tersasar di awal datang, saya dikejutkan kehadiran beberapa ekor burung hitam di dahan pohon depan saya, beriringan dengan merpati-merpati yang berkeliaran bebas itu.

“Are they crows?” tanya saya ke Takeshi-san.

“Yes, anything wrong?” tanyanya.

Lalu saya cerita ke dia tentang susahnya jadi burung gagak di Jawa. Dia sering dipersalahkan atas datangnya berita buruk. Dan Takeshi-san sedikit amazed juga mendengar cerita saya.

“Here, crows are everywhere, and no one disturb them,” tambahnya.

Huft, jadi ingat kecil saya dulu. Bersenjatakan ketapel, terinspirasi film petualangan Brama Kumbara dan buku-buku dongeng, kami berlagak jadi (kalau sekarang sih) Si Bolang, berburu merpati di sawah, yang ternyata: itu milik orang..!

Viva forever, Gagak se-Ngawi..!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s