31) SHIKOKU ADVENTURE

     Segala sesuatu yang terjadi adalah karena seijin-Nya.
     Persiapan seringkali hanya sampai membuat skenario G, padahal selalu ada kemungkinan kejutan H hingga Z.
     Bersaudara adalah selalu lebih baik daripada tidak bersaudara.
     Perjalanan saya berkelana tanpa gitar –karena saya memang bukan Kesatria Bergitar- ke Pulau Shikoku, pulau keempat terbesar di Jepang, sekali lagi menguat…kan pemahaman saya itu. Tujuan utama saya dalam petualangan ini sebenarnya adalah ‘lapor diri’ kepada dua senior saya di Universitas Negeri Malang dahulu, Mbakyu Kurnia Atiullah (angkatan ’97) dan Big Bruder Sonny Elfiyanto (angkatan ’98) yang kebetulan sedang menempuh program yang sama di Naruto Kyouiku Daigaku dan Tokushima Daigaku. Ke Mbak Atik, saya ada agenda khusus yaitu mengambil 3 video kelas yang akan saya jadikan bahan observasi untuk laporan program (padahal perkuliahan tinggal 2 minggu!), sedangkan ke Mas Sonny, saya (yang angkatan ’00) hanya mendapat undangan untuk bersama mendengarkan pengajian kiai ‘heboh’ KH. Anwar Zaidi via youtube.. hihi…
     Sabtu, 11 Januari, jam 7.30 pagi, saya menunggu bus Chuo menuju Sapporo di halte Kawabata di tengah badai salju. Tak ada bus! Semua dibatalkan karena salju terlalu tebal. Saya mulai berspekulasi. Saya putuskan untuk menuju terminal bus pusat yang berjarak 1 jam jalan kaki. Sesampai di sana, saya mencoba bersabar. Humm, tetap tak ada bus hingga jam 3 sore. Saya bimbang. Pak Suko, rekan saya di Sapporo, sudah menelepon saya tentang jadi tidaknya keberangkatan saya menuju rumahnya di Sapporo. Nekat, saya akhirnya menuju ke stasiun kereta Asahikawa. Alamak, saya lihat harga tiket kereta Super Kamui teramat mahalnya, Rp. 500.000,00. Itu tiga kali lipat harga tiket bus yang cuma Rp. 160.000,00. Saya kembali berspekulasi ketika melihat sebuah rute kereta lokal (ekonomi). Dengan harga sekitar Rp. 200.000, saya merasa inilah cara terekonomis agar bisa sampai Sapporo, yaitu dengan cara turun di kota Iwamizawa, lalu berpindah kereta untuk menuju Sapporo. Saya pun ambil opsi itu, dan ini pertama kalinya saya naik kereta tersebut.
      Setelah mengalami kejadian konyol terkait tiket (akan diceritakan di bagian lain, hehe!), akhirnya jam 7 malam saya sampai Sapporo (herannya, Sapporo cerah tidak bersalju!)  dan langsung disambut dua saudara China saya, Zheng Miao dan Chu Qingnam, plus Tang-san. Jam 10 malam, saya sampai di rumah Mas Suko – Mbak Rina dan langsung lanjut ngobrol tentang kehidupan nelayan-nelayan dan ‘uniknya’ petinggi-petinggi kita di Indonesia hingga jam 1 pagi. Minggu pagi, tanggal 12 Januari, kami bersama Pak Gogo, Bu Anna dan ditemani Pak Fengky menuju Teisen Bowling untuk window-shopping. Jam 1 siang, saya pamit ada janjian dengan Mas Najib untuk menukarkan hape flip-flop kami dengan iPhone. Awalnya saya tidak begitu minat dengan iPhone, tapi sambil menghabiskan waktu menunggu berangkat kereta ke bandara, saya pikir tak ada salahnya saya masuk ke toko elektro itu. Mas Najib belum tiba ketika seorang mbak-mbak petugas mendekati saya dengan senyum (standar orang Jepang), lalu bertanya tentang apa yang bisa dia bantu.
       Awalnya saya hanya bilang bahwa saya menunggu teman, tapi lama-lama ternyata, eh, saya jadi juga pindah operator telepon. Ketika Mas Najib tiba, saya sudah setengah jalan proses. Jam 4 sore, saya harus segera ke bandara, tapi iPhone baru saya belum selesai proses. Untung Mas Najib bersedia mengeksekusi pengambilan iPhone baru saya itu, dan berangkatlah saya ke bandara dengan tanpa membawa handphone! Jam 4.15 sore saya naik kereta menuju bandara New Chitose di tengah ancaman badai salju. Kalau macet itu kereta, habislah riwayat tiket saya karena penerbangan saya terjadwal jam 6.15 malam. Turun dari kereta, berlari saya menuju counter Peach Air. Dan.. waduh.. ampun dah.. ternyata hari ini semua penerbangan banyak yang cancel. Pesawat saya pun sedianya di-delay hingga jam 8.10 malam.. Huffft…
      Dalam masa penantian itu, tanpa dinyana, saya bertemu senior saya asal Padang, Bapak Effendi yang kebetulan akan pulang ke Indonesia. Pesawat beliau cancel tadi siang, dan terpaksa dialihkan ke pesawat saya. “Muga gak cancel, Mas Phoe, soalnya tiket saya bisa hangus ntar yang ke Indonesia.” Kami kemudian sholat di lalu-lalang counter J*tst*r. Tilawah Pak Effendi indah sekali. Sejuk rasanya walau ramai orang lalu lalang.. Alhamdulillah, pesawat datang juga. Naiklah kami ke Peach Air MM 108, dan setelah cuaca agak bagus, jam 9 malam pesawat pun take-off. Ahamdulillah, terbang juga…
       Mendarat di Kansai jam 11 malam, saya memutuskan untuk menginap di bandara karena saya ingin tahu rasanya. Lagian, Maret nanti saya juga akan back-pack travel juga ke Taiwan. Bandara yang asyik. Semakin malam, petugas patroli mulai menanyai orang-orang yang menginap di bandara Kansai Terminal 2 itu. Giliran pertama adalah (entah kebetulan or disengaja) dua orang bertampang Timur Tengah. Humm.. Saat mendekati saya, saya senyum kepada dua polisi bandara tersebut. Saya sapa duluan mereka. Lalu kami bercakap dalam bahasa Jepang meskipun dialek mereka agak susah saya pahami. Dan malam itu saya tidur, bersyukur atas segala kemudahan yang diberikan-Nya sejak Sabtu pagi hingga malam itu..
       Senin pagi hari, saya segera naik bus limosin menuju Tokushima. Saya beli tiket pulang-pergi seharga 7.200 yen. Lumayan, dapat potongan 800 yen daripada jika beli terpisah-pisah. Di bus, saya tertidur lelap. Saat membuka mata ketika sudah masuk Pulau Shikoku, saya merasa sangat excited. Saya senang sekali. Suasana persawahan, rumah-rumah model Jepang, matahari yang cerah, tidak ada salju, dan di sana-sini terlihat perhau-perahu bersandar. Eksotis sekali..! Di Hokkaido, saya tidak pernah melihat ini karena kondisi alam yang berbeda. Rumah-rumah di Hokkaido cenderung kubus dengan atap datar atau sekedar sliding saja. Saya betul-betul menikmati pemandangan ini. Jam 11 siang, saya mendarat di Tokushima Station. Stasiun ini unik bagi saya ini adalah stasiun pertama yang saya lihat yang mesin ticket-gate nya belum ada alias masih pakai petugas manusia yang berdiri. Komunikasi antar pengguna stasiun dan petugas lebih banyak terjadi di sini. Lebih ramai suasananya, walaupun orangnya tidak terlalu banyak. Tunggu punya tunggu dan setelah naik kereta satu gerbong ke Shozui, akhirnya jam 1 siang, saya sampai juga di Stasiun Shozui. Di sana senior saya Sang Pendekar Kibasan Rambut Panjang Sonny Elfiyanto datang menyambut saya naik sepeda. Uwahh.. sepeda.. I miss it.. Di Hokkaido sepeda sudah pensiun berbulan lalu.
       Sonny Elfiyanto adalah kakak kelas saya angkatan 1998. Peraih DANEM tertinggi kedua se-Jawa Timur tahun 1998 ini mendapat beasiswa penuh untuk kuliah S1, dan dia menggunakannya untuk mengambil double-degree S1 Sastra Inggris dan Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Negeri Malang. Kuliah selama 6 tahun dan aktif di kegiatan mahasiswa tentu saja membuatnya terkenal dan berkuasa di jurusan kami selama 5 tahun penuh. Seluruh angkatan 1999 hingga 2002 pernah merasakan teriakan-teriakannya saat Ospek.. hehe. Sebelum berangkat ke Jepang, dia baru saja menamatkan S2-nya. Selain guru di SMK di Malang, dia juga seorang dosen heboh di Universitas Muhammadiyah Malang. Dulu, saya tidak pernah berinteraksi dengan Mas Sonny karena saya lebih aktif sebagai ketua Asrama UM. Dan, di sinilah, di Jepang, kami ternyata harus berinteraksi lebih… Bersama Mas Sonny, tanpa minum dopping pun, kami kuat ngobrol selama 8 jam non-stop. Diselingi dengan memangsa rawon merek Sonny-punya, dan bubur kacang ijo hasil tangan dingin sang dosen kesasar, kami mengobrol ngalor-ngidul-kiri-kanan-atas-bawah sikat habiss..! Pandangan-pandangan Mas Sonny terkait pendidikan di Indonesia sangat unik. Lucu sekali, di luar mainstream.. Cocok banget nih sama saya. Selain dia memandangnya dari dua sisi (sebagai guru SMK dan sekaligus dosen), linguistik khas Malang-nya membuat impresi tersendiri. Dan pembicaraan malam itu ditutup dengan bersama-sama mendengarkan pengajian ndeso KH. Anwar Zaidi via youtube yang membuat kami menjadi anggota Jamaah Ngakakkiyah malam itu.
       Selasa pagi, saya bersiap menuju senior saya satunya di kota Naruto. Huff, susahnya bepergian tanpa hape. Bener-bener susah. Untung di Mas Sonny saya sempat menggambar peta dan rute perjalanan di Naruto nanti. Setelah foto-foto dan merekam pesan-pesan Mas Sonny untuk saya, berangkatlah saya menuju Naruto. Jam 11 siang, saya sampai Naruto. Karena terbiasa dengan konsep ‘observasi sebelum hari H’ sejak SMA dulu, saya memutuskan berjalan kaki saja dari Stasiun Naruto menuju Halte Bus Naruto. Saya tidak mau tersasar besoknya untuk bus limosin ke Kansai, jadi itulah kenapa saya ingin pergi melihat halte itu terlebih dahulu. Jam 11.30 sampailah saya di Halte Kosoku Naruto itu. Yakin tak ada masalah, saya kemudian naik menuju jembatan yang menghubungkan Naruto kota dengan 2 pulau kecil dimana Univ. Pendidikan Naruto berada. Saya sejak awal memang sudah berencana untuk menyeberang jalan kaki menuju universitas. Di Googlemap, saya ditaksir hanya perlu 2 jam dari Stasiun Naruto menuju Narutokyouikudaigaku dengan jalan kaki. Namun, begitu sampai atas jembatan, skenario saya berantakan. Jembatannya mengerikan. Panjaaang, membentang di atas laut, dan jembatan yang ini, walaupun ada gambar sepeda dan orang jalan kaki, terlalu mengerikan untuk disebrangi oleh pejalan kaki karena sempitnya. Mobil banyak. Saya pun keder. Dan saya pun bilang dalam hati, “Ah, tidak apa, besok pagi, mobil pasti jarang dan saya masih ada kesempatan untuk merasakan sensasi menyeberang jembatan ini.” Saya pun naik bus.
      Begitu masuk pulau kecil itu, hati saya sontak gembira. Saya suka pantai. Landscape ini sungguh indah bagi saya. Sungai-sungai yang bersih, perahu-perahu bersandar. Saat turun di depan Universitas Pendidikan Naruto, tak habis saya mengagumi keindahan ciptaan-Nya. Apalagi di tangan manajemen Jepang yang ramah lingkungan begini, semakin lengkaplah keagungan-Nya. Setelah berfoto-foto selfie, saya berjalan menuju asrama tempat Mbakyu saya Kurnia Atiullah tinggal. Sepanjang perjalanan, semakin saya gembira, karena sekian lama dibekap salju, saya akhirnya bisa melihat pemandangan ini. Di sisi lain, saya juga menjadi sedih yang menjadi karena saya sendirian menikmati ini. Asrama NUE berhadapan dengan laut, bener-bener mirip hotel di Hawaii dengan banyak sekali lapangan luas. Saya tak habis membayangkan, berimaji bahwa saya sedang bermain sepakbola dengan dua anak saya, Aszayuz dan Aga Hiroki, dan manajer cantik kami Dani Novita memberi instruksi dari bangku taman yang menghadap laut itu. Huhuhu…
       Jam 4 sore, Mbak Atik sudah pulang. Mumpung masih ada matahari, saya diajak ke taman kota pusat kegiatan warga. Lagi-lagi dekat pantai, lagi-lagi indah, lagi-lagi sedih, membayangkan apakah saya bisa membawa anak-istri saya ke sini, mengingat status PNS yang kadang membelenggu kaki dan hati.. hihih.. Di sisi lain, agak miris mendengar cerita Mbak Atik tentang fenomena SD yang tutup karena tidak ada or amat jarangnya anak kecil lagi di Naruto. Kalau saja taman dan pantai ini di Ngawi, alangkah indahnya.. (apa iya ya, kalau budaya buang sampah kami di Ngawi masih pake sistem 5S alias Sumpelin Semak Sana Semak Sini??)…
       Mbak Kurnia Atiullah adalah angkatan 1997. Kelahiran Kediri, besar dan bekerja di Jawa Tengah, membuat bahasa Jawa kami tidak banyak berbeda. Beda dengan Mas Sonny, saya sama sekali tidak pernah bertemu dia di UM dulu. Saat tes wawancara di Kedubes Jepang di Jakarta lah saya bertemu dia. Dari dia, saya senang mendengar cerita-cerita tentang keluarga dari perspektif seorang ibu dan istri, cerita tentang menjadi guru yang baik dan taat administrasi (aa.. mendokusai na sono shigoto..), dan lain-lain. Ditambah kehadiran Mbak Budiyah, seorang PNS di kantor pelatihan para kepala sekolah Surakarta, kami ngobrol tak habis-habis. Tentang KPK, tentang Diknas, tentang Kemenag, tentang Amazone, dll. Lagi-lagi, kami mengobrol sampai jam 3 pagi. Betul-betul kepala sampai penuh mencerna cerita.
      Rabu jam 4 pagi, saya bersiap balik menuju halte bus limosin. Bus saya terjadwal jam 6.15 pagi. Mbak Atik sedikit ngomel-ngomel karena saya tidak memberitahu tentang jam bus limosin saya. Saya memang sedikit menyembunyikan keinginan saya untuk jalan kaki menyeberang jembatan. Setelah meyakinkan Mbak Atik, merekam sedikit nasehat-nasehat perpisahan (tentang instruksi kumendan Naruto, 5 tahun, 15 Januari 2019), saya berjalan mengikuti rute di peta yang saya buat. Ternyata mengerikan..! Tidak ada orang di gelap jam 4.30 (setara jam 1.30 di Ngawi). Udara dingin, hening, sepi, berjalan melewati banyak jembatan kecil, saya sedikit ngeri kalau tiba-tiba disapa Mbak Sadako.. (hiii…) Tiba di jalan berbukit menuju mulut jembatan, saya sedikit ragu untuk terus berjalan. Saya lupa memasukkan ini dalam skenario saya tentang kemungkinan adanya beruang di Shikoku..! Tapi, di pulau kecil ini, tidak ada taksi jam segini. Tawaran Mbak Atik tentang nomer telepon taksi sudah saya tolak sebelumnya. Agak ragu, saya berkeputusan terus melanjutkan perjalanan. Takut, takut, sambil terus mengawasi semak-semak di bukit. Saya bertahan walau takut, karena saya berpendapat bahwa semakin saya tertantang, semakin akan berkesan perjalanan saya ini. Setelah 45 menit berjalan dalam kengerian, saya sampai di mulut jembatan ini. Panjangnya hampir 1 kilo kali (hehe..) membentang di atas laut. Tiba di mulut jembatan, saya tertegun terhenti. Jembatan ini menakutkan di malam hari. Walau tak ada mobil sepadat siang hari, tetap saja menakutkan. Begitu angker dan angkuh di gelap pagi.
      Saya tekan tombol ‘on’ di kamera saya. Saya mulai berjalan. Ngeri, takut kalau ada penampakan. Ngeri, karena beberapa kali truk dan mobil berlalu dari arah belakang saya, padahal jembatan sempit. Semakin ke tengah, saya semakin ngeri. Langkah kaki setengah berlari, saya membaca Al-Fatihah keras-keras berkali. Semakin mendekati ujung jembatan satunya, semakin saya berlari. Saya takut jatuh ke laut. Dan ketika saya tiba di ujung jembatan, saya bersorak melompat-lompat ibarat pelari maraton menyentuh garis finish. Mas Sonny dan Mbak Atik sebagai orang Naruto pasti akan berkata, “Gila ni orang..”
       Jam 6.15, masih gelap, setelah sholat Shubuh di bangku halte, saya naik bus limosin menuju Kansai. Sebelum terlelap tidur, terbayang betapa Allah telah menyelamatkan saya dari banyak hal, memberi saya hadiah berupa saudara-saudara yang hebat dan baik di Jepang ini dan akal untuk berpikir. Selalu terbayang juga alangkah senangnya pemerintah Naruto melihat anak-anak saya sekolah di SD mereka, terbayang indahnya melihat cewek saya sekaligus ibu mereka, Dani Novita, memimpin arisan keluarga mbah-mbah di Naruto sambil mengipasi seafood di barbeque di taman kota Naruto yang pantai-oriented itu… Entah kapan, entah mungkin, mengingat tugas yang mulia juga telah menunggu di Ngawi. Entah bisa, entah tidak, entah boleh, entah ‘dame’ oleh kabupaten, akan saya coba. Kalau dibolehkan ya alhamdulillah, kalau tidak boleh ya coba lagi dan coba lagi…
P1130828 P1130866 P1130828b P1130776 P1130844 P1130828a
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s