30) Mati Cool ala Hokkaido

P1130630  Saya tinggal di Asahikawa, Pulau Hokkaido yang pada tahun 1902 mencatat rekor suhu terendah dengan minus 41 derajat Celcius, dengan rata-rata minus belasan saat winter normal seperti saat ini. Pulau ini melimpah saljunya. Dinginnya bukan dingin yang bikin menggigil seperti dinginnya hembusan hawa pantai Kepulauan Shikoku, tapi dinginnya adalah dingin yang menggigit dan bikin sakit anggota badan yang terpapar udara. Dalam minus 11 derajat, keluarkan tangan Anda tanpa sarung tangan, dan dalam 2 menit, tangan Anda akan kesakitan selama 10 menit selanjutnya.
Di dua musim dingin ini, saya semakin menyadari kekuasaan-Nya bahwa maut atau kematian benar-benar sangatlah dekat dengan kita. Di sini juga saya teringat judul buku stensilan favorit saya dulu, misal Mati Ketawa ala Madura, Mati Ketawa ala Gus Dur, Mati Ketawa ala Rusia, lalu pada era-era kuliner seksi belakangan muncul Masak ala Chef Bondan, Masak ala Chef Mak Lampir, dan lain-lain. Mengapa saya teringat itu semua? Karena di sini, saya melihat fenomena baru, yaitu: Mati Cool ala Hokkaido.
‘Cool’ artinya sejuk. Tapi orang Indonesia sering menyamakannya dengan ‘cold’ alias dingin. Di sisi lain, cool juga bisa berarti keren. Nah, konsep Mati Cool ala Hokkaido ini mencakup keduanya.
Mati Cool model pertama adalah sesuatu yang hampir saja saya alami: kejatuhan salju. Alhamdulillah, Allah masih sayang hamba-Nya yang semrawut ini. Saat itu hari Jumat, di sebuah Januari 2013, di musim dingin pertama saya di Sapporo. Saya sedang berjalan kaki menuju masjid untuk sholat Jumat ketika.. BRAKKK.. sebuah bongkahan salju besar jatuh, tepat di titik dua langkah setelah saya melewatinya. Bongkahan itu pecah menjadi tiga bagian. Saya melihat ke atas. Saya lihat tiga ekor gagak mencakar-cakar salju di atap gedung lantai 8 Rumah Sakit Hokkaido University. Jelek-jelek begini saya paham hukum Fisika terkait energi potensial dan energi kinetik. Saya, demi sekali lagi melihat tiga pecahan bongkah salju itu, menjadi gemetar teringat anak-istri saya di Indonesia. Dalam hati, saya berpikir, ‘cool’ juga kalo waktu itu saya ‘pensiun’ dari dunia gara-gara kejatuhan bongkah salju. ‘Cool’ karena kepala kena dingin-dingin, dan ‘cool’ juga karena saya waktu itu sedang dalam perjalanan menuju masjid demi sholat Jumat. Di Hokkaido dan bagian utara Honshu, lansia mati kelongsoran salju dan tertimbun sedalam 2 meter adalah sering terjadi. Mereka tidak ada sanak famili untuk membersihkan atap mereka. Pas mereka membersihkan atap, longsor, jatuh, tertimbun.. Itulah sebabnya, tentara di Hokkaido sering dikerahkan membersihkan rumah-rumah lansia.
Nah, di Asahikawa, kejatuhan es bagi saya adalah hal yang sangat mengerikan, karena bentuk es di sini sangatlah berbahaya. Stalaktit es yang kita sebut ‘tsurara’ ini bisa sepanjang 2 meter dengan ujung yang sangat runcing. Bayangkan jika es yang menggelantung di atap itu patah ditabrak gagak, dan kita sedang berjalan di bawahnya. Hii.. ngeri sekali jika harus kejatuhan itu… Ibarat kejatuhan tombak lah..
Mati Cool model kedua adalah dari bawah: kepleset es. Saat salju memadat dan menjadi es, licinnya bukan main. Sapporo sangat licin, sedangkan Asahikawa tidak begitu licin karena hampir tiap hari dihujani salju. Patah tulang adalah momok di musim dingin, dan jatuh menghentak ke belakang adalah sangat dihindari demi menghindari akibat fatal berupa kematian. Seorang dosen di universitas saya rehat karena empat tulang rusuknya patah, terpeleset di jalan menurun. Seorang teman Perancis patah kaki karena berjalan saat mabuk. Dan biasanya, orang yang habis minum-minum rentan terhadap kepeleset. Seorang mahasiswa Jepang meninggal gara-gara terpeleset saat mabuk, lalu tidak bisa bangun, tertidur. Tertutup salju berhari-hari, meninggallah dia. Jasadnya ditemukan 2 minggu setelahnya.
Dan Mati Cool ala Hokkaido yang ketiga mungkin sekarang sudah tidak jamannya lagi, karena banyaknya alat pemanas. Jaman dahulu sekali, dengan suhu sedingin ini dan rumah yang belum serapat ini, pastilah dingin yang menusuk rentan menyebabkan kematian. Pernah dengar ‘frosbite’, dimana sel-sel mati karena kedinginan sehingga bagian yang membeku itu harus dipotong?
Berada di lingkungan yang menantang seperti ini, pada akhirnya, menebalkan rasa syukur saya atas nikmat alam Indonesia. Seburuk apapun keadaan negeri kita saat ini, itu  karena oknum sahaja. Masih amat banyak hal yang harus senantiasa kita syukuri, daripada harus berkeluh kesah melihat tingkah oknum-oknum pejabat ataua salah urus kekayaan alam kita…

P1110990

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s