29) Dua Amerika, Dua Belanda, Satu Jepang dan Haji Agus Salim

“Maaf, saya mau ke Amerika minggu depan.”DSCF2168 agus salim
“Eh, dia mau dipindah kerja ke Korea, lho.”
Pernah mendengar kalimat-kalimat semacam ini? Jika pernah, tolong jawab pertanyaan saya berikut ini: Negara mana yang terlintas di pikiran Anda ketika mendengar kalimat pertama, dan negara mana pula yang terlintas di pikiran Anda saat mendengar kalimat kedua?
Baiklah, saya tidak akan menunggu lama untuk jawaban Anda, karena akan saya jawab sendiri. (Gak sabaran amat ya?)
Untuk pertanyaan pertama, saya akan menjawab: The United States of America alias Amerika Serikat, dan untuk pertanyaan kedua, negara itu adalah Republic of Korea alias Korea Selatan. Saya rasa jawaban saya ini sangat mewakili jawaban kebanyakan orang Indonesia. Menariknya, orang Jepang dan orang China (setelah saya berinteraksi banyak dengan mereka) juga punya jawaban yang sama dengan orang Indonesia tentang ini. Dan rasanya, banyak sekali orang dari negara lain juga mempunyai pikiran yang serupa. Padahal, kita sama-sama tahu kalau Amerika sebenarnya adalah nama benua yang satu tapi kelihatan dua (gara-gara Amerika Utara dan Selatan terlalu kelihatan terpisahnya) dimana berpuluh-puluh negara beroperasi di sana, sedangkan Korea adalah nama semenanjung di Asia Timur dimana dua negara, People’s Democratic Republic of Korea (Korea Utara) dan Korea Selatan yang sebenarnya dulu satu, berdaulat di sana. Dalam hal ini, menurut Ibu Woro Utami, guru Bahasa Indonesia di SMP saya dulu, dua kata itu berarti telah mengalami yang namanya proses penyempitan makna.
Mungkin Anda bertanya, kenapa juga saya harus berputar-putar tentang pelajaran Bahasa Indonesia di masa SMP saya dulu. Saya perlu menyampaikan ini karena, di atas, saya memilih judul ‘Dua Amerika, Dua Belanda dan Satu Jepang’ untuk tulisan tentang perjalanan coba-mencoba beasiswa luar negeri yang telah saya lalui sebelum akhirnya terbang ke Jepang ini. Saya tidak ingin salah paham terjadi (meskipun itu sangat kecil kemungkinannya) bahwa ketika saya menulis ‘Saya mendaftar beasiswa Amerika dua kali’, Pembaca budiman akan membayangkan saya mendaftar beasiswa ke salah satu negara di Amerika Latin.
Sekedar cerita, sebelum akhirnya terbang ke Jepang untuk Program Teacher Training 2012 pada tanggal 1 Oktober 2012 lalu, saya sudah dua kali gagal proses seleksi beasiswa pemerintah Amerika (maksud saya, Amerika Serikat) dan dua kali gagal pula untuk seleksi beasiswa pemerintah Belanda. Dengan seijin istri, pada bulan Mei 2010, dengan sertifikat TOEFL berskor 573 dengan nominal Rp. 300.000,00 yang saya bayar memakai uang utangan dari hasil panen kedelai mertua, saya mendaftar program training 6 bulan untuk guru oleh Pemerintah Amerika Serikat. Pengalaman pertama mengurus rekomendasi kantor, menerjemahkan ijazah ke Malang dan menyelesaikan berkas-berkas lain, termasuk menulis esai, benar-benar melelahkan. Untunglah, saya dibantu banyak oleh saudara saya alias teman kuliah saya dulu, Mbak Sari Wulandari, yang mengirimi berbagai sampel dokumen tersebut.
Saya penyuka bahasa. Di rumah, saya berbicara dalam dua tingkatan bahasa Jawa. Waktu kecil, saya pernah main ke rumah budhe di Bandung selama satu minggu, dan pada hari keempat, saya sudah bercakap sederhana dalam bahasa Sunda dengan sepupu saya. Saat SMA, saya otodidak belajar bahasa Jerman. Waktu kuliah di jurusan Bahasa Inggris Universitas Negeri Malang, kebetulan ada kelas Bahasa Turki (kerjasama dengan PASiAD Turki) yang dibuka perdana pada bulan Februari 2004. Selain itu, saya harus sedikit-sedikit memahami bahasa Madura mengingat warga Asrama yang saya urusi banyak yang berasal dari Madura.
Dengan riwayat bahasa seperti itu dan sedikit yakin bisa mempelajari bahasa percakapan dalam dua bulan, di formulir pendaftaran beasiswa Amerika tersebut, saya memberanikan diri sedikit nge-trick dengan menulis di kolom kemampuan bahasa bahwa saya bisa berbahasa Prancis, padahal aslinya saya tidak bisa sama sekali! Saya hanya berfikir bahwa program ini pasti ditujukan juga untuk guru-guru dari negara-negara francoponic seperti negara-negara Afrika, dan dengan begitu, kemampuan bahasa Prancis pasti akan berguna. Karena teringat guru ngaji waktu SD dulu tentang ketidakbolehan kita bohong, setelah formulir pendaftaran saya kirim, saya mencari seorang guru Bahasa Prancis di SMA dekat rumah untuk memberi saya les privat. Lalu belajarlah saya selama 8 kali pertemuan. Karena saya memang suka dan bersemangat belajar bahasa, pada pertemuan ketiga, saya sudah mengobrol dalam bahasa Prancis dengan guru privat saya.
Semua berjalan lancar dan saya lolos menuju seleksi semifinal (wawancara) di Jakarta pada Juni 2010. Alhamdulillah, saya gagal! Senangnya, saya dapat pengalaman pertama menginap di hotel gratis plus uang saku dan tes TOEFL pula. Setelah gagal tersebut, berbekal dokumen yang sudah lengkap, saya beranikan lagi mendaftar beasiswa Belanda untuk program training 2 minggu saja. Saya lolos dan mendapat LoA dari penyelenggara di Belanda, tapi, alhamdulillah lagi, saya gagal!
Tahun 2011, saya mencoba lagi ikut seleksi program teacher training di Amerika Serikat itu. Kali ini saya lebih siap. Bahasa Prancis saya pun sudah lebih mantap karena saya ambil kursus di UNS Solo 2 minggu sekali selama 2 bulan (jarak Ngawi-Solo sekitar 2 jam jika bus Sumber Kencono sedang action gas polll..). Dan alhamdulillah lagi, tapi agak sedih saat saya mendengarnya, saya gagal lagi! Senangnya, itulah pertama kali saya naik pesawat, dan juga mendapat mendapat fasilitas gratis tes IBT-TOEFL yang kalau bayar sendiri bisa 2,5 juta rupiah. Di saat yang sama, saya dapat panggilan lagi dari penyelenggara program 2 minggu di Belanda. Saya ikuti proses di Stuned-Neso Belanda, dan.. lagi-lagi alhamdulillah saya gagal.
Dalam keadaan merasa terpuruk seperti itu, ditambah istri hamil muda anak kedua kami, saya memutuskan untuk rehat dari berburu beasiswa. Tapi, skenario Yang Maha Kuasa lebih indehoy.. Teman saya dari Yogyakarta, Mbak Sari, berbaik hati mengirim berkas TT MEXT Jepang 2012 kepada saya. Singkat cerita, meskipun pastinya puuuuuuanjanggg capek-letihnya, akhirnya loloslah saya ke Jepang.
Terkait aspek kebahasaan, lagi-lagi program Teacher Training ini menantang naluri kebahasaan saya. Saya tidak pernah belajar bahasa Jepang sebelumnya. Saat tes wawancara di Kedubes Jepang di Jakarta bulan April 2012, saya sedikit heran, kok wawancara suruh bawa pensil 2B. Mengantisipasi kemungkinan terburuk, saya menghafalkan Hiragana dalam satu malam! Caranya? Kebetulan saya membawa fotokopian buku bahasa Jepang dari SMA tetangga. Itulah yang saya coret-coret habis dalam semalam. Jadi, kalau boleh jujur, aslinya jawaban saya pas wawancara di kedubes itu agak ngelantur, soalnya saya ngantuk gara-gara malam sebelumnya nulis ulang buku Jepang. Makanya, ketika ditanya Bapak Motomura, jawaban saya malah ngelantur tentang Ninja, Doraemon, dll. Tapi, ada bagusnya, karena apa yang saya khawatirkan ternyata benar. Di tes wawancara tersebut, sambil nunggu giliran, kami diminta mengerjakan soal secara terbalik. Interviewee yang pada tes tingkat konsulat mengerjakan tes berbahasa Jepang saat itu dibalik diminta mengerjakan soal tes yang sama tapi yang berbahasa Inggris, dan sebaliknya.
Memang sih, tidak ada yang tahu apakah tes tulis sambil menunggu giliran wawancara waktu itu berpengaruh pada nilai kami agar bisa studi ke Jepang. Tapi, bagaimanapun, saya merasa puas sendiri karena saya menjawab soal-soal itu tidak dengan ajian pengawuran… hehe… Kepuasan yang amat personal. Dan ketika dalam masa penantian 2 bulan menuju keberangkatan (Agustus dan September 2012), saya kerjain anak-anak saya yang cukup encer kemampuan berbahasanya. Saya kumpulkan empat anak SMA saya. Kebetulan mereka ingin belajar bahasa Jepang. Dengan berbekal buku bahasa Jepang karangan rekan Teacher Training 2012 kami asal Tanah Minang, Mas Budi Harja, kami belajar bersama sekitar 5 pertemuan. Saya ajari mereka grammar dengan bekal pengetahuan grammar bahasa Turki saya (keduanya sama-sama berpola SOV), dan anak-anak itu saya paksa mengajari saya vocabulary.. haha.. Tapi, alhamdulillah anak-anak itu sekarang sudah menemukan bentuknya. Suci, yang sejak SMP sudah otodidak belajar bahasa Jerman, sekarang berkuliah di jurusan Bahasa Inggris UNEJ dengan fasilitas beasiswa Bidik Misi, dan Panji, calon poliglot selanjutnya yang sejak SMP otodidak belajar bahasa Jerman dan ketika SMA saya paksa belajar bahasa Prancis, sekarang berkuliah di Teknik Mesin Unibraw lewat PMDK. Mungkin Anda bertanya, kenapa kami selalu otodidak? Ya, karena kami tidak ada akses menuju itu semua. Kalaupun ada, sungguh sulit mendapatkannya. Kota kami kota kecil.
Ada dua sosok yang sejak kecil menginspirasi saya untuk belajar bahasa.
Haji Agus Salim dan Bung Karno.
Dalam hal ini, saya berterimakasih pada ibu saya karena buku lusuh beliau (Biografi Bung Karno) telah memberi saya semangat yang tinggi untuk belajar bahasa. Ya, ibu saya, walau hanya lulusan SMP dan keterbatasan ekonomi, suka membaca dan mendongeng. Beliau memberikan biografi Bung Karno berbahasa Indonesia pada saya ketika saya masih kelas 3 SD, dan di kala senggang beliau sering menceritakan ulang isi buku itu kepada saya layaknya saya orang dewasa (lha wong diceritain tentang cantiknya Inggit Garnasih, Amir Syarifuddin yang dipenjara dengan cara digantung kakinya oleh Belanda, Bung Karno yang tampan dan istrinya banyak, dll..) selain dongeng-dongeng tradisional sebelum tidur. Sejak itu, terkait bahasa, saya ingin menjadi polyglot seperti Bung Karno. Tapi sejak itu pula saya punya penyakit mempertanyakan sejarah. Contoh, saya selalu heran, kenapa Bung Karno tidak banyak dibicarakan orang, namun justru malah film horor tentang dini hari tanggal 1 Oktober di sebuah waktu lah yang menjadi topik wajib.
Dari buku itu pula saya pun mengenal (melihat foto) Haji Agus Salim, seorang tokoh yang saya kenal setelah Bung Karno tapi bagi saya lebih heboh daripada Bung Karno dalam hal ke-polyglot-an dengan 9 bahasa asingnya plus bahasa Minang, Indonesia, Sunda dan Jawa. Yang termutakhir lagi, tentu saja adalah kakak Raden Ajeng Kartini, yaitu Raden Sosrokartono, sang poliglot Indonesia dengan 24 bahasa asing dan 14 bahasa Nusantara-nya (cek please..). Dan jika saya tilik ke belakang, lima bahasa asing yang sudah saya pelajari (Inggris, Jerman, Prancis, Turki dan Jepang) sedikitnya sudah mengikuti rekam jejak Haji Agus Salim. Pikir punya pikir, setelah ini, saya ingin berusaha menambahnya dengan bahasa Arab dasar. Tiga yang lain, yaitu: Belanda, Spanyol(?) dan satu lagi saya lupa, rasanya belum ada minat ke sana.
Begitulah cerita awal hingga akhirnya kenapa saya terkesan keras kepala untuk mewujudkan kesempatan belajar ke Jepang ini. Berawal dari sebuah buku biografi yang lawas nan lusuh, yang warna kertasnya pun setengah kuning setengah coklat, yang sobek sana-sini, hadiah seorang ibu yang mungkin tak pernah belajar sinus-cosinus-tangen… Dan keikutsertaan saya di program Teacher Training 2012 Jepang ini mungkin adalah aliran semangat Haji Agus Salim yang terciprat kepada saya. Ge-er amat ya saya…
By the way, kembali ke obrolan ringan tentang nama negara di dunia dan proses penyempitan makna, saya ada pertanyaan iseng. Kenapa ya ketika orang menyebut nama ‘Afrika’, kita kok tidak langsung memikirkan Afrika Selatan ya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s