23) ASAHIKAWA, KOTA JEMBATAN

(Tulisan ini mungkin kurang fokus, tapi insyaallah akan segera saya revisi jika urusan adaptasi saya sudah mendekati akhir.. hehe..)

moving7  moving8  moving4

Manusia kayak saya ini sungguh membingungkan. Inginnya serba senang. Saya senang ketika mengetahui bahwa ternyata saya sudah 6 bulan di Sapporo untuk kelas bahasa Jepang saya, yang itu berarti setahun lagi program beasiswa saya selesai. Tapi di sisi lain, saya berat juga untuk meninggalkan apa-apa yang sudah saya temui dan dapatkan di Sapporo. Nervous dengan kepindahan ke kota baru yang tidak ada orang Indonesianya, membayangkan senyum dan tawa bapak-bapak di pengajian di masjid Sapporo selama ini, ibu-ibu yang ramah, mas-mas dan mbak-mbak Indonesia yang blink-blink, semua hal tersebut sering membuat saya masygul. Untunglah teman-teman China plus Mbak Isma-chan di kelas Intensive Japanese membuat party khusus buat saya. Dan terharu lagi bahwa ternyata Onishi Sensei ikut party di apatonya Zhao-san..! Di akhir acara, kejutan belum berakhir karena Onishi Sensei memberi saya hadiah. Bener-bener dah sensei yang satu ini, sayang banget ke saya.. hehe..

moving1moving2moving3moving6

Dan harinya pun tiba: PINDAHAN KE ASAHIKAWA. Dua koper dua tas saya bawa bersama di bantu Mas Najib dan Chu-san. Thank you very much. Sempat hampir pingsan karena harus naik turun tangga dua kali untuk mengangkut dua koper dan dua tas yang berat-berat semua, akhirnya saya pun sukses naik kereta dengan kepala pusing kecapekan. 1 jam 20 menit, kereta eksekutif super kamui saya sampailah di Asahikawa Station. Prof. Ishizuka, yang sungguh baik dan cemerlang, dan Mbak Kanako sudah menunggu di stasiun. Lagi-lagi, profesor saya ini ikut turun tangan membawa koper saya yang berat itu. Segitunya, ya…

Langsung menuju asrama, Aida-san (tata usaha Hokkyodai) dan Motoki-san (tutor saya) sudah menunggu. Acara memasukkan barang ke kamar selesai, kami ke balai kota untuk mengurus KTP dan asuransi. Kami semua kemudian ditraktir ramen oleh Prof. Ishizuka. Kembali sebentar ke kampus, saya bertemu dengan Satomi-san, Yui-san dan Kamo-san yang langsung haha-hihi dengan saya. Malamnya, saya dan Motoki-san diundang resmi oleh ketua komite pengurus mahasiswa asing di Hokkyodai, Komuro Sensei, seorang profesor Matematika, untuk welcome party di resto tempura. Ishizuka Sensei kali ini tidak ikut karena keesokan harinya beliau harus terbang ke Amerika Serikat.

Betul-betul hari pertama yang amat sibuk. Tapi, di hari pertama ini, ada beberapa temuan menarik yang membuat saya cepat feel-at-home di Asahikawa. Pertama, orang-orang di sini terkesan lebih longgar/nyantai, tapi memperhatikan. Saya teringat kata-kata Mbak Kanako dulu, “Asahikawa is very cold, but the people are warm (hearted).” Pas diajak ke mal di sini, saya melihat petugasnya (sambil menata barang di rak) mengobrol santai dengan bapak-bapak tua yang sedang belanja. Ketika saya sedang mencari minuman, saya asyik melihat-lihat minuman kaleng bergambar jeruk, strawberry, dll. Yui dan Satomi tiba-tiba mendekat dan bertanya, “Phu-san, bukankah Phu-san tidak minum alkohol? Kok di sini?” Ternyata, itu semua adalah bir! Kedua, lalu lintas kota ini mengingatkan saya sedikit pada Malang, tempat saya kuliah dulu. Terbiasa di Sapporo yang teratur dengan sistem blok-nya dan dimana-mana selalu ada lampu merahnya untuk tempat menyeberang membuat saya agak kagok awalnya dengan lalu lintas Asahikawa.

Dan di hari ketiga, saya menemukan hal ketiga yang membuat saya merasa semakin nyaman di Asahikawa. Tadi pagi, berbekal sebuah buletin, saya berjalan kaki mencari alamat Asahikawa International Center (AIC). Ternyata dekat sekali dengan stasiun, alias dari asrama saya ya sekitar 4 km jaraknya. Di sini, fasilitasnya luar biasa. Justru menurut saya lebih menarik international center-nya Asahikawa daripada Sapporo. Di sini ramai dengan anak-anak muda dan anak kecil. Tadi pun sempat bermain ke arena permainan anak-anak. Hmm.. jadi teringat keluarga saya…Untunglah, sejak di Sapporo saya selalu berusaha berbicara dalam bahasa Jepang meski nilai grammar saya paling hancur di kelas intensif dulu, jadi setiba di sini saya cukup cepat menggali info. Di sini amat sangatlah sedikit orang yang berbicara bahasa Inggris di sini. Di AIC ini, aslinya tujuan utama saya adalah mencari info tentang orang asing yang muslim (Pakistan, Bangladesh, dll). Dan hasilnya, tidak (belum) ada. Tapi, saya masih mendapat sebuah alamat resto Nepal di 7 km ke arah utara sana. Siapa tahu bisa bertemu orang muslim di sana. Di hari ketiga ini pula, saya sudah mendapat kunjungan kehormatan dari anggota Majelis Pertimbangan Perantau yang berkantor di Sapporo, Bapak Laju dan Bapak Fajar.

Asahikawa dialiri banyak sungai besar. Itulah sebabnya kota ini mempunyai banyak sekali jembatan yang panjang dan besar. Asahikawa sangat romantis bagi saya sejauh ini. Membayangkan kenyamanan yang ada di sini, rasanya ingin sekali mengajak keluarga untuk tinggal di sini, untuk program S2 saya nanti. Tapi, saya juga sadar sepenuhnya bahwa kehidupan saya di Asahikawa ini adalah ‘sekedar’ jembatan antara niat-niat saya di masa lalu bersama keluarga/komunitas saya di Ngawi sana dengan sebuah bentuk kami di masa depan yang kami sendiri pun belum tahu jelas seperti apa bentuknya. Apakah jembatan (kehidupan) saya di kota ini akan membawa saya dan keluarga saya ke kota ini lagi suatu hari nanti, ataukah ke bentuk kami yang lain? Belum tahu. Yang jelas, jembatan ini sungguh panjang jika tak segera diseberangi. Saatnya menyeberang..!

moving5

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s