24) GADIS MUDA DAN UANG LIMARATUS RUPIAH

Awal tahun 1999:  ….Seorang gadis muda berjilbab di Terminal Madiun memandangi uangnya yang tinggal Rp.1.500,00. Dia, yang juga sepupuku, harus pulang ke Ngawi saat itu juga, tapi uangnya masih kurang Rp. 500,00 untuk membeli tiket bus. Tak ada cara lain, kecuali…. 

 Sepupuku itu baru saja pulang. Seperti biasa, selalu saja Ibu memandang punggungnya yang menjauh dengan sedih, dan sering sekali dengan mata sembab. Dia sepupuku, anak dari kakak ibuku, tapi sejak kecil memang kami sering menghabiskan waktu bersama. Aku yang baru saja pulang, masih dengan seragam SMA-ku, tadi hanya sempat berpapasan dengannya di pintu. Tak banyak basa-basiku demi melihat wajah sepupuku yang kelihatan sangat sedih hari itu. Sepertinya episode pertemuan Ibu dan sepupuku itu hari itu cukup berat. Dan benar begitulah adanya.

Ibu duduk di kursi dengan diam. Aku yang belum ganti baju langsung makan di depan Ibu. Tak biasanya, hari ini tidak diomeli. Aku pandang Ibu, beliau menerawang dengan mata berkaca-kaca.

“Mbak Ita wonten nopo, Buk?” kataku memecah sepi, menanyakan apa yang sepupuku tadi obrolkan dengan beliau. Ibu hanya diam, belum juga bicara.

Setelah sekian detik, setelah hela napas yang agak panjang…

“Budhe Prandon sakitnya belum juga membaik, Thut. Mbak Ita habis dari RSU Madiun. Ingin sekali Ibuk menginap di sana lagi. Sayang, Bapakmu masih piket jaga. Menjelang Natal, Kapolsek minta piket jaga ditingkatkan,” jawab Ibu datar. Dan Ibu terdiam lagi…

Dan Ibu menyeka air mata.

Oalah, Ta, Ta… Ijik cilik kok wis ngadhepi masalahe wong tuwo koyok ngene…,” desah Ibu menyebut nama sepupuku itu. (terjm. Masih kecil kok sudah menghadapi masalah orang tua seperti ini). Sedikit banyak, aku sudah tahu maksud perkataan Ibu. Keluarga Budhe saya dulunya memang keluarga kaya. Selain kedua suami-istri adalah guruPNS, hingga tahun 1996, usaha konveksinya sedang jaya-jayanya. Ibuku pun sempat menjualkan baju-baju produksinya hingga sekitar setahun di pasar-pasar desa, ketika aku masih SD. Tentulah, waktu itu sepupuku itu bersama adiknya hidup dengan penuh fasilitas. Tetapi semua berbalik di awal 1997 dikarenakan rentetan peristiwa yang menyesakkan, mulai terkena tipuan bisnis dan lainnya. Dengan keadaan seperti itu, Budhe pun akhirnya jatuh sakit. Dan ketika sepupuku itu berhasil menembus UMPTN dan masuk di Fakultas Kedokteran UNS, keadaannya sungguh berbalik dari masa-masa SMA-nya. Ditambah keadaan Budhe yang sakit, sepupuku itu harus turun tangan ikut menghadapi pihak bank yang terus-terusan datang karena memang Budhe dulu mengambil pinjaman cukup besar di bank untuk usahanya. Seperti itulah kira-kira, kehidupan seorang mahasiswi brilian, yang di tahun keduanya harus menghadapi tanjakan berat dalam hidupnya.

Lagi, kupandang Ibu. Beliau masih berkaca-kaca.

“Hari ini, Mbak Ita cerita, dia baru saja dari Madiun. Dia harus kembali ke Ngawi dulu, ambil barang di rumah kita, lalu perlengkapan kuliah di rumahnya, dan sore nanti dia harus ke Solo lagi. Besok dia kuliah. Tapi, sungguh kasihan dia hari ini….”

Ibu terdiam lagi, sibuk mengatur pikirannya…

“Saat di Terminal Madiun, dia hanya punya uang Rp. 1.500,00 untuk sampai Terminal Ngawi. Itu tidak cukup, Thut. Dia masih kurang lima ratus rupiah lagi,” lanjut Ibu.

Lajeng pripun?” tanyaku.

“Ya akhirnya, tidak ada cara lain. Dengan masih melawan rasa sedih melihat keadaan Budhe di rumah sakit, dengan menahan rasa sungkan, dengan keterburu-buruan harus segera kembali ke kampus, dengan takut-takut, pertama seumur hidupnya dia harus meminta bantuan ke seorang ibu yang tidak dikenalnya. Ibuk sedih sekali mendengar ceritanya bagaimana dia harus bisa mendapatkan bantuan Rp. 500,00 dari ibu itu. Beruntung sekali ibu itu sangat berbaik hati, hingga mbakmu tidak harus menjaminkan KTP-nya. Tapi Ibuk sungguh sedih. Kenapa Ibuk tidak bisa membantunya di sana? Kenapa dia harus sendirian di terminal itu? Kalau Ibuk ada di sana, pasti dia tidak harus mengalami kejadian seperti itu. Ibuk sedih sekali, membayangkan dia sendirian di terminal itu, kebingungan bagaimana mendapatkan 500 rupiah lagi untuk bisa pulang,” ujar Ibu sambil semakin berkaca-kaca.

Aku mulai mengerti alasan mengapa Ibuk kelihatan begitu sedih. Posisi kami pun saat itu juga sedang banyak hutang, Adikku sudah kelas 3 SMP dan aku kelas 3 SMA. Sebentar lagi kami berdua akan lulus dan mencari sekolah yang lebih tinggi. Tapi, bagaimanapun rupa kehidupan kami, keadaan Budhe kami seringkali lebih menyesakkan bagi Ibu.

“Ini tadi untunglah Bapakmu pulang sebentar, jadi Ibuk bisa menambah sedikit uang jajannya untuk seminggu ke depan di Solo. Mbak Ita tadi terlihat senang, karena dia punya modal lagi untuk beli kerupuk mentah. Hufft.. Ibuk tak bisa membayangkan dia yang SMA-nya hidup dalam kecukupan, tapi saat ini untuk bertahan hidup saja, dia harus menggoreng kerupuk, dan menjualnya ke warung-warung dekat kos-kosannya. Berapa lama lagi to, Ta, Ta, kamu harus menjalani ini..?”

Kami terdiam.

Adikku masuk rumah, mengambil sepatu bolanya.

Ibu masih sibuk dengan buliran kaca-kaca di matanya.

Ayah mungkin sibuk mengatur lalu lintas di pos polisi di perempatan Samben sana.

Aku? Aku sibuk merancang ‘balas dendam’ pada LEMAHNYA kami saat itu …

 

Akhir tahun 2001:

Motor Shogun-ku melahap jalanan aspal menuju kota Ngawi. Aku memboncengkan sepupuku itu. Seumur-umur, baru kali itu dan hanya sekali itu aku berboncengan dengan dia. Sudah hampir setahun berlalu dari meninggalnya Budhe yang telah payah melawan sakit jantungnya. Sepupuku itu baru saja berkonsultasi dengan Ibu terkait beberapa pinjaman di bank oleh almarhumah Budhe. Sudah setahun setengah ini, resmilah sepupuku itu menangani urusan-urusan almarhumah. Pakdhe saya, karena cintanya pada Budhe, sepertinya agak limbung ditinggalkan oleh Budhe, dan mulai menunjukkan gejala-gejala kambuh darah tingginya. Sepupuku yang satunya baru saja memulai statusnya sebagai mahasiswa ITB di Bandung sana. Dan sepupuku itu, sebagai kakak, menangani urusan finansialnya. Aku, yang saat itu sudah memasuki tahun kedua di Universitas Negeri Malang, yang ‘hanya’ akan jadi guru Bahasa Inggris, masih sangat sering juga mendengar Ibu menelepon aku: Thut, ini almarhumah Budhe masih ada perlu. Kiriman buatmu tunggu seminggu lagi ya. Bagi kami, selesainya urusan almarhumah adalah tugas kami bersama.

Aku fokus mengemudikan motor. Sepupuku di boncengan masih saja bercerita-cerita tentang kehidupan kampus. Memangnya masalah-masalah kita sudah selesai, ya Mbak, kok situ ngoceh terus, batinku. Mendekati Tawun, tempat wisata pemandian di dekat rumahnya, aku iseng bertanya, “Mbak, wis jilbaban gitu, we yo jik renang?” Dia tertawa. Pertanyaan yang sungguh iseng, apakah seorang masih berjilbab masih berenang di pemandian Tawun. Lalu obrolan berubah arah menjadi bertema kenangan-kenangan masa kecil kami, yang mana Pemandian Tawun adalah idola anak kecil di jaman kami. Di penghujung waktu menjelang tiba di rumahnya, tiba-tiba dia sempat mengingatkan tentang sebuah mimpi dari Budhe di suatu malam tentang dia, adiknya dan saya, bahwa suatu malam beliau bermimpi melihat kami terbang ke bulan naik benang.

Awal Maret di tahun 2013:

HOKKAIDO-NYA JEPANG, TAIPEI-NYA TAIWAN, HONGKONG – MELBOURNE – SINGAPURA, DAN PERBUKITAN NGAWI UTARA DI SEBERANG LAUTAN WADUK PONDOK… Ke sanalah beterbangan para manusia penikmat tempe goreng Ngawi, dengan naik ‘benang’ terbang menuju ‘bulan’ …

Sudah lima bulan aku studi di Hokkaido University. Untuk yang ke sekian kalinya, aku mengalami juga berkali-kali perasaan bosan dengan salju..! Lagi-lagi badai salju. Hokkaido memang pulau salju. Suhu di luar sana minus 4 derajat, suhu di kamarku 20 derajat, dan suhu di hatiku, hmm.. tidak jelas. Suhu hatiku sedang hangat tapi sejuk, hangat penuh semangat, dan sejuk penuh kesyukuran, karena aku sedang menghadap laptop, berbincang dengan seorang sepupu via Skype dan Facebook…

 Phoe Prehantoro ki mesthi mikir kanji arep golek bakso. —> gambar sapi, gambar daging sapi, gambar bola, gambar mangkok. gambar sapi dolanan bal kecemplung mangkok.. 16 Maret pukul 23:25 · Suka

Rita Kumalasari Ha….ha….arep golek ayam, tapi gak mau sayap….aku nerokke ayam nganggo tangan….karo gedhek2…..no wings…..no wings…he…he….seru….sing penting iso makan, ora ana pork dan keturunanya…. 16 Maret pukul 23:34 · Suka

Phoe Prehantoro HAHAHAHA…. … asli lucu tenan ki mbak… ki dokter tingkat akut apa guru ekstra teater ning SD, gitu paling batine sing dodolan.. 16 Maret pukul 23:36 · Telah disunting · Suka

Rita Kumalasari He…he…. 16 Maret pukul 23:40 · Suka

Rita Kumalasari Tapi Alhamdullilah….aku ning kene byk ditolong orang….pas butuh pulsa, ketemu wong indonesia dodol pulsa , kangen makanan indonesia eh ketemu ana sing nduduhi…..wong taiwan e juga baik baik bgt….walaupun ora mudheng bahasane ….. 16 Maret pukul 23:44 · Suka

               Ya, dialah sepupuku, dr. Rita, yang pernah kebingungan karena uangnya kurang 500 rupiah untuk naik bus Sumber Kencono. Dia dan suaminya saat ini adalah penyokong dana utama dari kegiatan sosial untuk mengenang ibunya ‘KASIH MARGINI’ yang kujalankan bersama murid-muridku. Menikah dengan seorang dokter brilian nan filantropis asal Solo dan berkarir di Jakarta, mengurusi klinik-klinik sambil mengasuh 3 anaknya, tidak membuatnya kendur belajar. Dan hari ini, dia sedang di Taiwan sebagai duta belajar dari Ikatan Dokter Indonesia asal Universitas Indonesia cabang RS Ciptomangunkusumo (rumit sekali..) selama sebulan. Aku yakin ini hanyalah awal saja dari perjalanannya. Studi-studi dan tugas di luar negeri sudah mengantri menunggunya.

Adiknya, sang insinyur Heru, masih saja membara dengan penasarannya menembus ujian sertifikasi komputer international  tingkat parah yang membuat dia harus bolak-balik terbang Hongkong – Singapura dan Melbourne. Hidup damai dengan cinta pertamanya waktu SMP dan dikarunai seorang anak tidak membuatnya berhenti di zona nyaman di hiruk pikuk Jakarta. “Sertifikat ini nantinya adalah jalan pembuka untuk aku berbuat yang lebih banyak, Dik,” katanya suatu ketika dengan sangat serius di Skype.

Aku, seorang guru Bahasa Inggris (NB: tes PNS tanpa main suap) di sebuah kecamatan di sebuah kota negara bernama Ngawi, sekarang sedang tersaruk-saruk salju melangkahi puluhan jembatan di kota Asahikawa, Hokkaido, Jepang. Bersama istri cantik yang menurutku ‘aneh’ karena berani menikahi orang seperti aku, dengan dua anak dan kekayaan yang melimpah yang dialirkan oleh istri, tetap saja aku sering tidak tenang dengan ketenangan sekitar.

Dan adikku, si tampan penggila sepakbola, saat ini setiap pagi dan siang berdiri di atas perahu menyeberangi waduk. Baju seragamnya yang tertiup angin menambah kegagahannya, yang berani menghadapi mutasi dari sebuah SMP di kota menuju SMP terpencil. “Aku tidak punya uang, Mas, dan juga malas untuk menyuap oknum di atas sana agar aku tidak pindah dari sekolah asalku. Biarkan saja aku dimutasi, ini pasti yang terbaik,” tegasnya ketika kabupatenku heboh dengan penataan ulang guru PNS. Dia adalah seorang guru olahraga (NB: juga tes PNS tanpa main suap), di sebuah SMP di sebuah desa terpencil, di perbukitan seberang waduk di bagian utara-timur Kabupaten Ngawi. Bersama cinta pertamanya dari masa SMP, mereka diberi dua anak laki-laki yang olahragawan juga.

Bapak Ibuku? Mereka masih berkutat dengan hutang-hutangnya, bahkan sepertinya sudah menjadi hobi. Berhutang, lalu dibelikan sapi. Memelihara sapi untuk menghabiskan waktu, dan memberi sedikit pekerjaan bagi tetangga, itulah kegiatan mereka. Bagi mereka, berhutang adalah cara untuk mengingat masa-masa dulu, masa-masa lemah kami. Cara yang aneh…

 **********************

               “Terbang ke ‘bulan’ naik ‘benang’ adalah mimpinya Ibukku, Thut,” kata sepupuku waktu itu.

Sepertinya, sekarang aku tahu maksud mimpi Budhe itu. Bulan melambangkan ketinggian, sesuatu yang jauh, sesuatu yang indah di gelap hari, sesuatu yang penuh cerita di setiap generasi manusia. Dan, benang melambangkan sesuatu yang lembek, terkesan tak bertenaga. Tapi, kalau banyak benang kita pilin, dia akan jadi tali yang kuat. Semisal kita di sebuah penjara, dengan tali itu yang kaitkan ke jangkar, dan dengan tenaga yang amat besar kita lemparkan jangkar ke atas tembok penjara, kita bisa kemudian merambat melarikan diri dari penjara itu. Kalau kita buat tali yang amat sangat dan amat sangat panjangnya, lalu jangkarnya kita naikkan roket menuju bulan, bolehlah saya mengkhayal saya merambat ke bulan dengan peralatan lengkap seorang pendaki gunung dan astronot. Ah, lucu sekali bayangan saya. Pasti ini gara-gara kebanyakan nonton Doraemon…

rita heru 859754_4458585795259_756445558_o   23997_378007292182_2443030_n

ayah omo  ayah hokkaido  7020_1035462462479_5280868_n

(Kinyoubi, Sangatsu 22 Nichi, 22.23, mou ikkai naite imasu..)

Advertisements

One thought on “24) GADIS MUDA DAN UANG LIMARATUS RUPIAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s