26) “MUDAHNYA” PNS JEPANG BERHENTI ALIAS MENGUNDURKAN DIRI

“Emang ada yang ‘sempurna’ di muka bumi sekarang ini selain lagunya Andra and The Backbone?” –Akudhewe–

 Saya adalah seorang guru SMA dan kebetulan berstatus PNS di Indonesia. Menjadi guru sangatlah menyenangkan bagi saya, namun status sebagai PNS –saya akui (meskipun tidak sampai taraf ‘prihatin’)– kadang ada enaknya dan sering juga ada tidak enaknya.

Kedatangan saya ke Jepang, jika saya pilah-pilah lagi, ternyata membawa 4 kelompok tujuan, yaitu: 1) menyerap ilmu kebahasaan sebagai seorang Englishman dan juga peminat bahasa asing, 2) menyerap sisi-sisi keguruan/pendidikan di Jepang biar sepulangnya semakin menjadi seorang guru yang lebih cetar-membahana, 3) memperluas pergaulan baik dengan pelajar-pelajar Indonesia, orang Jepang dan komunitas internasional di Jepang dalam rangka memperluas wawasan kehidupan sebagai seorang manusia, 4) mengetahui fenomena ke-PNS-an (pegawai pemerintah) di Jepang. Dengan empat tujuan itu, jadilah saya orang ‘cerewet’ dan suka ngobrol berlama-lama dengan orang lain.

Sejauh ini, laporan perkembangan dari usaha pencapaian Tujuan 1, 2 dan 3 sudah sering saya tuliskan baik di blog atau di sosial media BukuMuka (Hail, Zuckerberg..!). Dan untuk Tujuan 4, inilah saatnya! Tulisan ini dilecut oleh kejadian siang ini (Kamis, 21 November) gara-gara pernyataan teman saya di kampus sekarang, seorang mbak-mbak Jepang yang berusia sama dengan saya namun kebetulan belum menikah. Dengan berbinar-binar, dia berkata, “Phoe-san, akhirnya hari ini saya keluar dari PNS..!”

Saya kaget tapi juga tidak kaget, karena selama ini kami memang sering bertukar pikiran tentang menjadi atau tidak menjadi PNS di Indonesia dan Jepang. Mbak ini seorang guru Bahasa Inggris di sebuah SMP. Sempat tinggal di Kanada dan Rusia, bahasa Inggris dan kemampuan lingusitiknya sangat bagus. Dia memang sering membuat saya kaget dengan cerita-ceritanya.

Kaget pertama sekali adalah karena ceritanya tentang konsekuensi yang dia terima atas keputusannya melanjutkan kuliah sekarang. Saat dia memutuskan kuliah S2 lagi di kampus saya, itu berarti dia harus off dari tugas, dengan konsekuensi TIDAK MENERIMA GAJI selama masa studi, dan TIDAK BOLEH bekerja sampingan (arubaito) karena statusnya adalah seorang PNS..!! Yap, selama 2 tahun ke depan dia nihil gaji, dan dia hanya mengandalkan tabungannya dari 8 tahun masa tugasnya selama ini untuk bertahan. Saat mendengar hal ini pertama kali dahulu, saya langsung teringat betapa sebenarnya pemerintah Indonesia lebih ramah pada PNS-nya yang mau kuliah lagi (di dalam negeri sajakah?) dengan tetap memberikan gaji pokok per bulannya. Dan demi empati sebagai sesama guru dan sesama PNS, saat itu pula, saya langsung ambil keputusan untuk tidak memberitahukan padanya bahwa saya adalah penerima beasiswa pemerintah Jepang. Tidak etis rasanya melihat dia mengirit-irit uang sehari-hari, sedangkan saya tiap bulan ditransfer oleh pemerintahnya.

Secara umum, ada persamaan antara persepsi tentang status PNS di Jepang (baik pegawai negara, atau pegawai perfektur, atau pegawai kota, termasuk tentara, polisi, dll) dengan persepsi di Indonesia, yaitu: masih menjadi idaman kawula muda dan tua, dan merupakan standar zona nyaman dan aman. Namun pastinya banyak juga hal beda. Beda pertama adalah atmosfer nasional saat proses rekrutmennya. Kalau di Indonesia, pas musimnya tes CPNS, koran-koran pasti akan ribut dengan dugaan calo CPNS (entah benar atau tidak!), kalau di Jepang, sepertinya ayem-ayem saja. Para mahasiswa juga akan serius belajar berkelompok demi ujian tersebut, padahal nantinya di hari-H, mereka akan saling berkompetisi, saling ‘bunuh’ satu sama lain! Buku bertumpuk-tumpuk di ruang Zemi, latihan wawancara, dan latihan presentasi bersama, itulah pemandangan yang jamak terlihat.

Beda kedua, PNS di Jepang (yang saya ketahui dalam hal ini adalah guru) wajib rolling tempat tugas secara periodik tiap 3, atau 4, atau 5 tahun sekali. Mbak ini adalah guru pemerintah Perfektur Hokkaido, dan dia sudah mengalami 2 kali mutasi ke SMP di lingkup kerja Perfektur Hokkaido dalam 8 tahun ini. Dan beda ketiga yang mengasyikkan adalah: proses mundur dari PNS/pegawai pemerintah tidaklah berbelit.

Setidaknya, saya sudah mendengar 3 kasus tentang PNS Jepang yang mengundurkan diri. Pertama, kakak Motoki-san adalah seorang tentara wanita anggota Pasukan Bela Negara Jepang. Dia memutuskan berhenti di usia 27 tahun karena ingin bersekolah di sekolah penerbangan untuk menjadi pilot pesawat komersial. Sekarang sang kakak sedang berada di Filipina untuk ujian lisensi terbang. Cerita kedua, kakak dari Takuya-san yang berhenti dari pekerjaannya sebagai polisi di daerah Yamagata. Menurutnya, sang kakak mengundurkan diri karena merasa trauma saat dia mengevakuasi korban gempa dan tsunami dahsyat tahun 2011 lalu. Sekarang sang kakak tersebut bekerja di Panti Jompo dan menikmati hari-harinya bersama orang-orang tua. Yang ketiga, tentu saja adalah kasus teman saya siang ini.

Dan sejauh ini pula, saya sudah mengikuti perkembangan 3 kasus tentang PNS Indonesia yang syussssahh sekali untuk bisa mengundurkan diri. Pertama, seorang teman di Sapporo. Dia kebetulan PNS di sebuah kementerian bonafide di Jakarta dan kebetulan mbak ini menikah dengan orang Amerika saat studi di Jepang. Sudah dua tahun berjalan, semua dokumen pengunduran diri yang dia serahkan tidak ada respon serius. Entah apa sebabnya. Padahal mbak ini sangat aktif dan berinisiatif sangat baik untuk mengikuti semua prosedur yang berlaku.

Kasus kedua, cerita yang sudah tamat dari seorang guru Kimia di NTB. Pak Deceng, begitu nama beliau di emailnya. (Please, see http://deceng2.wordpress.com/2010/10/30/cerita-mendapatkan-beasiswa-2/). Beliau guru yang brilian dan menyukai kemajuan. Setelah studi S2 di Australia dengan beasiswa Ausaid, bapak ini dengan usaha kerasnya kembali mendapat beasiswa S3 dari pemerintah New Zealand. Anehnya, saat akan berangkat, kepala diknas dan kepala sekolahnya kompak tidak memberikan ijin! Pada akhirnya, sang bapak bisa berangkat, namun saat kembali, beliau sudah tak diinginkan lagi. Entah kenapa sebabnya.. Akhirnya, dengan keadaan seperti ini, sang bapak menerima tawaran untuk mengajar di Universiti Teknologi Malaysia. Dan, bye-bye PNS! (Sepertinya tanpa surat resmi bye-bye, deh..)

Kasus ketiga, dan ini belum tamat, adalah potret yang diskriminatif(?) terhadap guru PNS yang membuat saya cemberut ikut geregetan membacanya. Mbak Okkotea (silakan lihat lika-likunya di Twitter-nya Okkotea) adalah seorang guru PNS brilian yang mengajar di sebuah SMA negeri dan sebuah universitas swasta. Karena ada peraturan terbaru bahwa guru PNS tidak boleh rangkap menjadi dosen di perguruan tinggi baik swasta atau negeri (dengan mempunyai nomer induk dosen, mungkin begitu maksudnya), Mbak Okkotea mengurus pengunduran diri dari PNS karena ingin fokus berkarir di perguruan tinggi swasta tersebut. Tapi yang terjadi adalah dia di-pingpong oleh para pejabat. Tidak ada alasan jelas kenapa dia tidak boleh keluar dari PNS. Hingga sekarang Mbak Okkotea ini studi S3 di Inggris, surat pengundurannya belum jelas kabar beritanya. Memang, ada guru yang berhasil melakukan proses melimpah tugas, tapi prosesnya yang amaaat panjaaanggg… Beberapa tahun lalu, kami punya Ibu Muchsonah, guru SMP negeri di Ngawi yang mendapat beasiswa Ausaid pada akhir tahun 90-an, dan tahun 2008 lalu beliau resmi melimpah ke ITB.

Bagaimana dengan guru Jepang teman saya? Dia hanya perlu melakukan tiga langkah utama. Satu, konsultasi dengan kepala sekolahnya. Dua, membuat semacam laporan kerja dan tulisan alasan pengunduran diri untuk diserahkan ke pemerintah perfektur. Tiga, membuat laporan keuangan di bank terkait gaji dan kekayaan selama dia menjadi PNS guru SMP. Setelah itu, dia tinggal menunggu tahun ajaran baru untuk mendapatkan surat pemberhentiannya. Dia bilang, “Pemerintah tidak bisa menolak keinginan saya, karena saya berhenti untuk kebaikan. Dan ini adalah keinginan saya murni..”

Humm…

Teman saya ini berhenti bukan untuk menjadi sesuatu yang lebih tinggi, bukan untuk mengejar materi yang lebih banyak, bukan juga untuk menghujat lingkungan kerjanya. Dia hanya merasa bahwa idealismenya untuk total mengajar bahasa Inggris tidak bisa dia lakukan jika dia masih menjadi guru PNS, terkait dengan kurikulum yang kadang entrance-exam oriented, tugas untuk mengajar ekstrakurikuler dan tugas-tugas administratif lainnya. Dia bilang nanti dia akan jadi guru honorer di sebuah SMP, lalu mengajar di semacam bimbingan belajar untuk menunjang kebutuhan sehari-harinya. Dan saat ini, demi idealisme dan kepuasan pribadinya, dia sibuk dengan kegiatannya mengajar bahasa Inggris untuk ibu-ibu rumah tangga dan anak-anak di kegiatan sukarelanya. Tanpa gaji.

Saya tidak habis pikir dengan Mbak Jepang teman saya ini. Dia benar-benar pelawan arus.

Apakah maksud saya menulis ini? Apakah saya ingin mengikuti jejak Mbak Okkotea ataukah Pak Deceng? Hohoho.. saya tidak se-hebring itu untuk bisa mengikuti jejak Pak Deceng, Mbak Okkotea, Pak Tuswadi, Pak Abu Naufal dan beratus bahkan beribu guru luar biasa lainnya yang selama ini menginspirasi saya. Saya masih pelajar kelas ikan buntal, yang menggembung dengan cepat jika ada ancaman, dan malas bergerak jika arus laut sepoi-sepoi.

Apakah saya akan mengikuti jejak Mbak Jepang itu? Hehehe… bisa jadi. Secara politis (padahal PNS dilarang berpolitik praktis) itu bisa saja terjadi mengingat tahun 2024 nanti saya harus bersiap mem-backing paman saya, Paklik Jokowi, dengan cara menjadi gubernur Provinsi Surakarta Berdikari (saat ini masih calon..hehe..)

Wahaha… jangan dianggap serius, ah..!

Lalu, mengapa saya menulis ini?

Untuk lingkup kecil, saya hanya ingin sedikit membantu memberi gambaran pada Mbak-mbak dan Mas-mas calon-calon sosok fantastis yang saya kenal di Sapporo selama ini, yang sudah mengajak saya ke party-party dan diskusi hangatnya selama ini, yang siapa tahu di antara mereka ada yang berkeinginan untuk menjadi PNS selepas studinya. Tak bisa dipungkiri bahwa di satu sisi, dengan menjadi PNS, cukup banyak fasilitas tersedia untuk kemajuan seseorang dan masyarakat, misal paling kecil ya semacam saya yang ketiban rejeki bisa studi di Jepang sekarang, dan kemudian ilmu serta jaringan sosial bisa digunakan untuk kemanfaatan bagi masyarakat terdekat (itu pasti!). Tapi jangan kaget juga jika di  satu sisi lainnya, sebuah lingkungan kerja PNS bisa berubah semacam lumpur hidup yang menarik kaki semakin dalam dan tenggelam tak bisa bergerak…

Wajah penuh senyum Takuya, Ayane, Ayaka, Eri, dan Masaru, para mahasiswa tahun keempat yang baru saja lolos ujian seleksi guru pemerintah, membayang di benak saya. Dan di depan mata saya sekarang, saya melihat wajah berhias senyum Mbak Jepang yang ceria memproses pengunduran dirinya dari PNS. Kontradiktif. Anomali.

“Phoe-san, saya berangkat dulu, ya. Saya hari ini akan berkendara 3 jam ke kota tempat saya mengajar untuk menyerahkan laporan kerja dan formulir pengunduran diri saya ke pemerintah kota. See you tomorrow!” kata Mbak Jepang tersenyum lalu melambaikan tangan. Enteng sekali…

Begitu saja?

Advertisements

2 thoughts on “26) “MUDAHNYA” PNS JEPANG BERHENTI ALIAS MENGUNDURKAN DIRI

  1. MantaaafffF.
    Sepertinya di Jp, keinginan berhenti kerja juga adalah HAM seseorang. Akan tetapi dia harus melalui prosedur yang telah ada dan jelas. Kadang kita tidak bisa berhenti secara mendadak, karena ada penyerahan tugas ke pegawai berikutnya (2 bulan sudah cukup utk ini). Tapi ini tidak begitu jadi masalah, karena mereka telah terbiasa dengan pindah/rotasi posisi/jenis kerja sekali dalam 3 tahun (ini banyak manfaatnya, utk mengurangi korupsi, perbuatan curang, utk cek dan re-cek, anti KKN, terlalu akrab dgn klien/tamu/rakyat, juga utk menyaring mereka yang akan jadi pemimpin/bos berikut).
    Saya juga nggak tahu kenapa di Ina susah utk berhenti kerja sebagai PNS. Mungkin sesusah mundur dari PNS karena korupsi. Atau memang karena kita belum merdeka (masih mewarisi sistem kerajaan zaman baheula). Atau karena atasan nggak bisa meng-handle pekerjaan yang akan kita tinggalkan….. kalau begitu, atasannya saja yang mundur karena nggak bisa/becus kerja 😦

    Ikan buntal (fugu) akan lebih mahal dari maguro (tuna) ketika dia dibantu untuk memisahkan racunnya dari dagingnya. Ikan buntal yang sudah sampai ke Asahikawa pasti akan lebih bermanfat daripada lumba-lumba yang jenius, terutama ketika dia dibantu man-teman-woman-nya untuk berkiprah dan berkarya.
    Pelajaran berharga dari para Jepunese, buatlah TIM/GRUP untuk menghasilkan karya yang berhasil, bermanfaat dan memperbaiki khalayak ramai
    Orang kita bilang, lidi sendirian akan mudah dipatahkan, lidi berkumpul akan bisa menyapu semuanya………. mari kita bersihkan negeri kita.

    Ganbaro………

    Untuk diingat :
    Gempa/tsunami adalah di tahun 2011 Maret 11.

    Kadang Kantin Koperasi Universitas menyediakan lauk ikan buntal goreng. Coba dicicipi, siapa tahu semangatnya jadi bertambah. Atau kita cari sashimi ikan buntal di Sapporo. Ikan buntal yang paling enak adalah jenis harimau (torafugu = buntal harimau). Walau namanya ikan buntal, tapi gelarnya harimau.
    Adakah yang mau digelari raionfugu ? (buntal singa)…he..he..he…

    Menjadi PNS juga adalah satu pilihan yang baik. Ketika belum ada perbaikan, kita jadi ikan buntal, tetapi ketika pemimpin yang bijak dan arif datang, saatnya kita jadi buntal harimau, yang enak, mahal, bermanfaat bagi orang lain dan tentunya menyenangkan dan membahagiakan orang yang kita layani.
    Tinggal sesaat lagi, insya Allah negeri kita akan jadi baik. Tidak semuanya harus jadi lumba-lumba. Sebentar lagi, iIkan teri yang selama ini menyamar jadi lumba-lumba juga akan jadi ikan asin 🙂

  2. Amin.. Terima kasih untuk semangatnya.. hehe.. Semoga teman-teman yang sedang dalam proses ‘beralih’ status selalu diberi kemudahan. Dan semoga teman-teman yang sedang dalam status PNS senantiasa bersemangat berbuat terbaik dengan potensinya walaupun di tengah keterbatasan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s