12) DOSENKU ANEHNYA DUA

   

Haem.. haem.. lama tidak menulis, tadi malam saya ‘dihardik’ yunior saya dari Jakarta untuk segera menulis. Berhubung kemarin, Jumat, 23 Nov 2012, Onishii-sensei habis mengajak kami (dari 2 kelas berbeda)  jalan-jalan, saya mendapat ide untuk mengangkat dosen2 bahasa Jepang saya di sini. Judul diatas memang agak aneh, dan sebenarnya itu harusnya berjudul “Dosenku Aneh-aneh’ alias bisa juga ditulis “Dosenku Aneh2′ dan lalu saya modifikasi menjadi ‘Dosenku ANEH-nya Dua’ begitu…

Melihat beliau berlima, saya sungguh teringat dengan dosen-dosen saya di Univ. Negeri Malang, saat saya menari bersama Ibu (Eyang) Johana Oka, berdiskusi ‘gila-gilaan’ dengan Pak Arif Subiyanto, diwejang Bu Widayati dan Bu Furaidah, dan sebegitu banyak dosen hebat yang tidak akan cukup saya jelaskan di sini. Ya, pengajar (guru dan dosen) di sini memang berbeda dari kebanyakan pengajar yang saya pernah lihat di lingkungan saya di Indonesia selama ini (kecuali Bahasa Inggris Univ. Negeri Malang). Lalu apakah pengajar di Indonesia berarti tidak lebih baik dari pengajar Jepang? Oh, tentu saja tidak begitu. Saya merasa bahwa keberbedaan ini adalah bentuk respon pengajar Indonesia pada budaya lokal murid/mahasiswanya. Meskipun sebenarnya pada beberapa bagian, sistem kepegawaian/kedinasan guru/pengajar di sini memang bisa diujicobakan di Indonesia…

Selayang pandang, inilah profil 5 dosen bahasa Jepang saya:

1. YAMASHITA-Sensei. Di foto atas no.1, ada anak2 muda sedang berfoto dan di belakangnya ada seorang bapak berambut putih menjulurkan lidahnya. Yup, itulah beliau, kepala program bahasa kami di International Student Center, seorang polyglot (Jepang, Inggris, Spanyol, Portugis dan Mandarin) dan juga pengajar di kelas kami. Celananya jins warna biru dengan sobek di bagian saku belakang, dan ya itu terus selama seminggu. Pernah juga beliau memakai celana winter, baru memakai celana di luarnya, sehingga terlihat aneh karena celana panjang yang bagian dalam lebih panjang dari celana jins-nya. Beliau tidak punya SIM, tidak punya mobil, dan tidak punya handphone. Padahal gajinya amat besar..! Setiap hari, beliau bersepeda ke kampus. Sepeda mini warna biru dengan dua kerajang di depan dan belakang, dengan slebor roda yang karatan, dan jika dikayuh, sepeda itu akan bernyanyi.. ‘kriek..kriekk..’ dengann syahdunya. Ditambah dengan lampu tambang yang dikenakan di dahinya, Yamashita-sensei menjadi sosok yang bikin saya teringat para  guru bersertifikasi (termasuk saya) yang begitu mengidamkan mobil biar tidak kepanasan dan kehujanan (alasannya sihh gitu..) dan lain sebagainya. Tapi kalau urusan mengajar dan keluasan ilmunya, jangan tanya dah..! Begitu sistematis, begitu enerjik, dan begitu ‘koproh’ alias sering memberi contoh-contoh kalimat yang aneh-aneh, kadang juga berbau pornografi (haha..). Namun yang paling berkesan bagi saya adalah ketika beliau bersin-bersin terus, dengan santai beliau bilang, “Hah, gomen ne.. shinimasu..” (terjmh: sorry yo, aku lagi arep ‘modar’ ki..) Kontan saya dan Webbes-san tertawa keras. Lalu Shu-san berkata, “Yasunde kudasai, Sensei..” (terjmh: istirahat dong, sensei..) dan Yamashita-sensei menjawab sambil nyengir, “Hai, wakatta, shinda ato de yasumimasu..” (terjmh: yoi, suk ae yen wis mati tak leren…) Dan seluruh kelas jadi gaduh karena tertawa.. Beliau menyampaikan ilmu bukan hanya dalam bentuk jadi, tapi juga bagaimana cerita awal dari ilmu tersebut. Jadi, saat belajar Kanji, saya pun belajar asal-muasalnya, saat belajar pronunciation, saya pun belajar proses-proses pembentukan suara tersebut. Dari beliau, saya menyimpulkan bahwa pola kedinasan dan penampilan fisik saya selama ini rasanya bukan masalah besar deh.. Tribute to Pak Mijo (SMAN 5 Madiun), Pak Cholil (SMAN 1 Malang) dan Pak Arif Subiyanto (UM)…. my idols..

2. NISHIDA-Sensei. (foto belum tersedia) Beliau sudah agak sepuh, tapi masih sangat cantik. Bajunya selalu bagus, indah dipandang. Gayanya lembut banget. Semacam Ibu Laksmi (dosen saya dulu), Bu Utami or Bu Andre. Kelas Writing selalu terasa cepat karena beliau memang pintar menggiring suasana..

3. NAKANO-Sensei. (Foto no.2, ibu berambut pendek, mengenakan topi pelukis) Sensei ini adalah tokoh favorit saya karena beliau sangat terbuka jika diajak bicara tentang keluarga. Sebagai info, di Jepang, keluarga, pernikahan dan anak, adalah tema-tema yang dihindari (bahkan tabu) untuk diperbincangkan. Tidak ada yang namanya arisan Dharma Wanita di sini, hingga antar dosen pun mereka tidak tahu nama  istri/suami kolega mereka. Tapi ibu yang satu ini berbeda. Bahasa Jepangnya adalah yang paling mudah saya mengerti, karena beliau sepertinya sangat pandai dalam diksi (memilih kata2 yang sederhana) dan fragmentasi kalimat. Beliau punya 1 putri yang cuantik (6 tahun) dan 1 putra (2 tahun). Sungguh seorang Japanese family-woman…

4. SUDO-Sensei. (Foto no.2, ibu berambut panjang). Dosen yang sangat ekspesif..!! Saya sangat menyukai gaya beliau yang suka menggunakan potongan2 kertas dan realia dalam mengajar. Suatu ketika beliau menjelaskan arti kata ‘shinimasu, shinde imasu’ yang artinya sedang mau mati, sedang mati dll, beliau tiba2 teatrikal banget menjatuhkan diri ke lantai dan berguling. Sama juga ketika beliau menjelaskan arti ‘ni’ dan ‘de’ sebagai keterangan tempat, tiba2 beliau naik ke kursi dan menari2 (isu de odoru) dan tiba2 duduk (isu ni suwaru). Hihi.. jadi teringat saya yang pernah ngajar sambil jalan2 di atas meja, lalu anak2 Jurnalistik saya suruh perkenalan sambil merayap di jendela kelas…

5. ONISHII-Sensei. (Foto no.3). Ibu ini adalah dosen paling muda di ISC Hokkaido University ini. Usianya baru 32 tahun. Bajunya paling gak nge-match. Seringkali pakai stocking dan rok pendek yang mengembang, lalu besoknya pakai celana panjang warna hijau. Beliau sering heboh sendiri kalau ngajar, tiba2 tertawa sendiri saat mencontohkan sesuatu, tapi beliau juga sangat intens berinteraksi dengan mahasiswa. Kemarin kami ber-22 orang diajak ke Kuil Hokkaido (diajari berdoa juga, tapi saya nunggu di luar sambil kehujanan salju), Maruyama Zoo dan Pabrik Bir dan Jus ‘Asahi’. Tanpa mengurangi sikap saya sebagai seorang murid bagi beliau, saya paling bisa tanya aneh2 ke Onishii-sensei karena usia yang tidak beda jauh membuat saya mudah membuat tema percakapan. Melihat beliau, saya jadi ingat kerjaan saya di Ngawi yang suka bikin genk-genk anak aneh (genk TOEFL, genk Jepang, dll..) dan memerintahkan aneh2 ke anak2 saya di SMA sana… Wawancara dengan orang gila, wawancara dengan rusa di Monumen Suryo… haha…

Saya menulis ini sama sekali bukan untuk membanding-bandingkan sana dan sini, bukan juga untuk mencari pembenaran atas kegilaan, keusilan, dan kekacauan yang pernah dan juga yang akan saya lakukan di SMA saya di Ngawi nanti.. Semoga bisa menambah wawasan bagi yang ingin mengetahui bentuk kehidupan lain di luar kolam kita…

Advertisements

3 thoughts on “12) DOSENKU ANEHNYA DUA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s