10) PIJAT REFLEKSI DAN REFLEKSI DALAM PIJATAN

739731_459188240806920_825792475_o  penjual keliling  620628_448550871870657_1805513748_o

“Lha iya lho, Za, panen padiku yang dulu saking bagusnya hasil bersihnya hanya tinggal 40.000 rupiah. Ya terus tak belikan lontong saja, tak makan bareng2 sama banyak orang. Oalah, yo, yo, panen kok hasilnya lontong pecel,” ujar Lik Kasni (lelaki yang memijiti seorang nenek di gambar 1) sambil memijiti badanku. Seperempat detik kemudian, mertua saya, istri saya, ipar saya dan semua pun menyambut cerita Mbah Kasni (panggilan kerennya) dengan tawa berderai-derai… Ya, Mbah Kasni sedang tertawa dan menganggap lucu nasib buruknya…

Pijat, sekali lagi pijat. Semua orang pasti tahu itu. Ada yang setuju, ada yang kurang setuju karena katanya bisa merusak jaringan/saraf tubuh. Terlepas dari berbagai kontroversinya, pijat terbukti adalah cara pengobatan yang bertahan selama hampir sejak adanya peradaban hingga sekarang. Dan berkembanglah berbagai macam versi pijat. Ada pijat tangan kosong, pijat jarum, pijat kayu, pijat refleksi, dan bahkan pijat ereksi (ups.. soalnya ada yang menyalahgunakan sih..!) hehe.. Ada juga yang pijatnya divariasikan dengan berbagai alat/media lain. Ada pijat yang sebelumnya mandi susu dulu, pijat dengan lulur rempah, hingga ada sebuah temuan inovatif juga yaitu pijat yang memakai lumpur Lapindo. Indonesia adalah surga pijat. Eksistensi dukun pijat tidak akan bisa sirna dari bumi Indonesia. Dukun bayi pasti juga menguasai teknik pijat untuk ibu hamil dan bayi (maaf, bapak bayi tidak dihitung) hingga teknik tersebut juga mulai dimasukkan dalam kurikulum sekolah kebidanan (hehe.. ngawur nih, saya tahunya cuma kurikulum Bahasa Inggris..). Dan REFLEKSI, asalnya adalah serapan dari bahasanya Eyang Ratu Elizabeth ‘reflection’ yang berarti pantulan atau boleh juga cerminan. Nah, di sinilah ijinkan  saya untuk berbagi ‘kegalauan’ saya (cemungud eeaa!!) tentang satu kenyamanan di Indonesia yang hilang setiba saya berada di Negeri Salju ini (maaf, bukan sakura, soalnya sakura belum ada), yaitu: PIJAT dan REFLEKSI.

Di Hokkaido, saya betul-betul kehilangan pijatan Mbah Kasni, Pakpuh Di, Mbah Tro Jami, Dhe Mariyah, dan masih banyak dukun pijat yang lain. Di Hokkaido, untuk berelaksasi, orang akan berendam di onseng yang mana semua harus lepas baju..!! Tidak boleh ada selembar tali rafia pun (atau kainlah) yang menempel di badan..! Ya jelas saya tidak berani. Mau ke spa, atau massage-center? Aduh, nggak deh, takut..!! Hingga resmilah saya kehilangan ritual pijat saya. Bukankah sebenarnya pijat gonta-ganti pemijat itu bahaya? Ya, cukup riskan karena teknik mereka berbeda, meskipun sebenarnya saya pijat pun ya hanya 2 bulan sekali. Tapi bukan pijatan itu sebenarnya yang jadi target saya. Target saya adalah: REFLEKSI HIDUP. Saya ingin selalu berkaca tentang sebuah anomali dari kealpaaan saya sebagai manusia yang sok serba bisa, yang sok penting, dan sok-sok lainnya. Saya selalu ingin mendengar cerita beliau2, tentang bagaimana mereka menertawakan masalah2 kehidupan sebagai langkah awal untuk menaklukkannya, tentang cerita perjuangan Mak Joyo Endot di era revolusi republik kita, tentang pengalaman Mbah Kasni yang juga dagelan ketoprak di masa mudanya yang pernah ditawari oleh Kirun (pelawak ternama dari Jawa Timur) untuk masuk grup-nya tapi dia menolak karena lebih memilih jadi orang biasa mengurus ibunya di desa asal istri saya, dan baaanyak cerita lain yang tidak akan saya dapat meskipun saya masuk spa lulur oli shinkansen di Hokkaido. Dan di akhir, semua ritual akan ditutup oleh istri saya yang sedari awal duduk menemani saya dipijat. Dia akan membawa dua gelas kopi dan teh panas dan jajanan desa lainnya kepada kami. Dan ketika sang dukun pijat pamit, saya akan menyalami beliau, sang dukun pijat saya, sembari menempelkan uang 20.000.. yang sebenarnya sama sekali tidak cukup untuk harga pelajaran2 yang beliau berikan…

Pijat refleksi… refleksi dalam pijatan…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s