28) PU-SAN SI BRONDONG MANIS

      Brondong. Bahasa Inggrisnya pop-corn. Nama makanan Indonesia ini berkembang arti menjadi sebutan untuk lelaki muda yang menyenangkan dan ‘menyenangkan’. Pastinya, film dan media massa-lah yang berandil besar dalam perkembangan maknanya. Entah juga, bagaimana bisa kata itu berkembang arti macam itu.

      Sewaktu kecil, saya sering mencari ember pecah untuk saya kumpulkan. Bahasa Luxian-nya adalah ‘memoeloeng’. Kalau tidak ada ember pecah, kadangkala saya setengah sengaja memecahkan ember yang paling lama dimiliki ibu saya, dengan cara menjatuhkannya saat membawa air dari sumur tetangga. Semakin banyak pecahan ember plastik saya, semakin terbayang jumlah brondong jagung yang akan saya terima. Ya, pecahan-pecahan plastik itu akan saya tukarkan ke pencari barang plastik keliling dengan se-contong (kerucut dari kertas) brondong jagung sederhana. Sedaapp…

      Saya sangat menikmati masa kecil bersama brondong sederhana itu. Walau jaman berganti, aroma harum brondong jagung buruk rupa yang dipadu dengan aroma kertas buram yang ternyata adalah lembar jawaban THB anak-anak SD era 1988-1994 itu sungguh tak bisa hilang.

      Sekarang, di sinilah saya, di kota Asahikawa, yang katanya merupakan karesidenan terdingin di Jepang. Sadar harus aktif bergerak bersosialisasi agar tidak jenuh, saya sering nongkrong di gedung kota, tempat international center. Efektif. Banyak orang menyapa saya. Singkat cerita, akhirnya sampailah saya pada sebuah komunitas yang betul-betul saya nikmati sekarang. KOMUNITAS EYANG-EYANG..!! Di Jepang, umumnya para pensiunan memang beralih ke kegiatan-kegiatan volunteer. Walaupun berusia lebih dari 60 tahun, beliau-beliau sangatlah cekatan. Menyopir sendiri, merancang acara-acara dan umumnya melek teknologi. Semangat ngeksis-nya pun masih terasa.

      Saya rasa, saat ini saya adalah Pu-san si Brondong Manis…

      Pernah suatu ketika menjelang X-masDay, saya diundang ke sebuah dinner di seorang eyang putri. Suasana dinner itu benar-benar mengingatkan saya pada suasana arisan. Saat itu ada tiga eyang putri, dan satu eyang kakung. Eyang Kakung, sang tuan rumah, tidak banyak cakap. Beliau sibuk dengan televisi yang menayangkan acara kejar-kejaran antara polisi Jepang dan pelanggar lalu lintas (huff.. gak seru blass..! hehe.. wong cuma ngelanggar gitu aja kok dikejar.. hihi..). Eyang putri pertama adalah sang tuan rumah. Beliau ini sungguh memperhatikan style-nya. Fashionisti..! Bajunya modis-modis, pun juga asesorisnya. Eyang putri kedua adalah yang menjemput saya. Beliau tomboy abis dengan gaya bicara mirip Okky Lukman. Eyang putri ketiga mirip sekali dengan sesepuh Keraton Solo Mangkunegaran yang pernah saya jumpai, lengkap dengan suara yang mendayu-dayu dan penuh etiket dalam bergerik-gerak.

      Di acara dinner itu, betul-betul saya jadi penonton sahaja. Beliau-beliau bersendau gurau habis-habisan selama lebih dari tiga jam. Sesekali saya diajak ngobrol, tapi melihat beliau-beliau sambil sesekali bertanya dan ditanya, itu sudah sangat mengasyikkan. Sesekali juga eyang putri sang tuan rumah memukul kecil bahu saya (wih..!) saat beliau merasa terlalu senang. Serasa jadi ‘brondong’ deh..

      Komunitas kedua adalah keluarga Eyang Abe. Keluarga Eyang Abe adalah salah satu partner universitas saya dalam kegiatan homestay. Keluarga ini benar-benar keluarga si Bolang. Saat Eyang Abe Kakung berumur 19 tahun, beliau bersepeda keliling Jepang selama 1 tahun 1 bulan..! Saat beliau berdua menikah, Eyang Abe Kakung-Putri berbulan madu dengan mobil pribadi dan kapal (note: mobil dan penumpang masuk kapal) dari Hokkaido hingga Okinawa di ujung selatan Jepang. Waktu total yang dibutuhkan adalah 1 bulan. Hingga sekarang pun, tiap tahun beliau berdua di usia 64 tahun ini masih berkapal-kapal ria (mobilnya juga masuk, pastinya) lalu menyusuri pulau utama Honshu dengan menyetir secara bergantian untuk mengunjungi saudara-saudara dan rekan.

      Semalam, di hari keempat setelah tahun baru, Eyang Abe mengundang saya untuk dinner bersama dua pasang eyang-eyang lagi. Dan saya sungguh menikmati status saya menjadi ‘brondong’ yang ‘manis’ di hadapan beliau-beliau… Dan pada akhirnya, saya ingin sedikit menyimpulkan beberapa manfaat bergaul dengan eyang-eyang –selain, tentunya, banjir buah, banjir kopi-teh sampai plempog’en, dan banjir hadiah pernak-pernik:

  1. Banjir kata-kata bijak. Eyang-eyang terbiasa menggunakan kanyouku (ungkapan) ataupun kotowaza (peribahasa). Ini yang sangat saya suka, karena bahasa Jepang saya pun menjadi lebih berwarna. Kata-kata yang saya suka, “Ishibashi o tataite, wataru.” Artinya, “Mengetuk-ngetuk jembatan batu, baru menyeberang.” Ini disampaikan spontan oleh Eyang Abe Kakung saat saya bercerita tentang gaya menabung dan berkeputusan saya dan istri.. hehe..

  2. Banjir cerita sejarah. Sejak kecil, saya tertarik dengan kekaisaran Jepang. Kaisar dan keluarganya selalu menarik perhatian saya, sampai-sampai saya punya kliping kecil-kecilan tentang keluarga kaisar. Di acara bersama Tiga Nenek Heboh menjelang Natal, saya sempat bertanya, “Kaisar pernah berkunjung ke Asahikawa?” Langsung saja Eyang Putri Tomboy menyahut dengan energi tinggi, lalu bersahut-sahutanlah cerita beliau bertiga mengenang saat Permaisuri Michiko dan Kaisar berkunjung ke Asahikawa berpuluh tahun lalu. Saya? Tentu saja saya sudah hilang dari perhatian.. haha.. Tapi, saya sungguh menikmatinya. Cerita tentang perang, Hokkaido masa dahulu, dan lain-lain hanya bisa saya ketahui lewat eyang-eyang saja.

  3. Banjir keluhan. Bergosip ria. Namanya orang-orang tua pasti sering masygul dengan keadaan anak muda sekarang. Salah satunya, adalah patriotisme yang kabur. Anak Jepang jarang sekali hafal Kimigayo. Jadi teringat seorang Jepang yang saya kenal yang justru bilang bahwa lagu kebangsaan itu lebih mirip puisinya orang kasmaran. Hal lain adalah enggannya anak muda Jepang menikah, ataupun enggannya pasangan muda untuk punya anak. Berita heboh lagi yang saya dapatkan dari gosip-ria bersama Tiga Eyang Putri Heboh adalah bahwa di Asahikawa tingkat PERCERAIAN DOKUMEN semakin lama semakin tinggi. Di Asahikawa, fasilitas yang memberi keringanan untuk pasangan bercerai yang punya anak sekolah memang banyak, misal: bebas pajak ini, bebas biaya itu, potongan asuransi, insentif keuangan bulanan, dll. Semakin ketatnya hidup rupanya memberi dorongan pada keluarga-keluarga labil untuk berpura-pura bercerai. Setelahnya, si suami akan menyewa apartemen di sekitaran rumah asalnya. Dengar-dengar ada juga peraturan tentang radius minimal untuk apartemennya dan aturan komunikasi fisik. Tapi, kata nenek-nenek ini, itu nggak ngefek..

  4. Banjir cerita konyol. Karena masa konyol itu sudah lama lewat, cerita yang harusnya dilabeli ‘tragis’ itu justru menjadi bahan tertawaan. Ada kala saya ternganga lebar mengetahui seorang kakek atau nenek pernah menghabiskan seratus ribu yen dalam sehari alias sepuluh juta rupiah untuk judi pachinko. Ada juga saat saya geleng-geleng mendengar cerita seorang kakek yang dahulu dalam seminggu bisa 4 kali pesta minum-minum seharga 3 juta rupiah semalamnya. Yang paling berkesan adalah ketika saya bercerita tentang kenekatan saya melamar istri di pertemuan kedua kami. Saya bilang kepada eyang-eyang itu, “Watashi no tsuma wa GAMBURU mitai na.. Kamisama ni kansha shiteimasu, ima made watashi wa kachimashita.” (Istri saya benar-benar ibarat perjudian saya. Syukur pada Yang Kuasa, hingga hari ini saya menang..) Lalu, Eyang Abe Kakung yang sudah menghabiskan botol bir ketiganya mengerjap-ngerjap mata sambil berkata, “Aa.. ii na.. watashi wa maketa..” (Eloknya.. Saya sih kalah..”). Eyang Abe Putri yang duduk di sampingnya justru tertawa tergelak-gelak, mengiringi kerasnya suara tawa saya…

  5. Banjir nasehat. Bangsa boleh beda. Ras, kulit, bahasa. Tapi, karena yang namanya bola dunia ini cuma satu, selalu ada nilai-nilai universal yang bisa dibagi. Nilai-nilai dalam berkeluarga, bercita-cita, berkasih-sayang-cinta, bertolong-tolongan, dsb. Di tengah kami bercanda, bergosip, berkernyit dahi karena cerita aneh, beremosi mendengar keanehan dunia modern saat ini, dll, banyak sekali nasehat tersembunyi yang bisa saya peroleh. Seperti saat saya tahu bahwa orang Jepang bisa menghabiskan waktu 30 tahun untuk membayar angsuran rumah dengan angsuran sebesar 6 juta rupiah per bulannya (sekitar 1/4  atau 1/5 penghasilan seorang PNS biasa di Jepang) alias 2,16 milyar rupiah jika ditotal yang membuat saya sekali lagi tersadar untuk berkali-kali lagi bersyukur bahwa kami setidaknya sudah sempat membangun rumah sederhana sebelum saya berangkat ke Jepang…

      Saya sangat menyukai geyolor gawul (gaul, maksudnya) bersama para oldies di Asahikawa. Bergaul bersama beliau-beliau benar-benar melatih sense of humanity saya. Memancing tema, melempar opini (seperti saat saya diminta menjelaskan tentang Timor Timur dan saat menjelaskan Kalimantan kok ada tiga negara), membagi kultur dan prinsip tanpa harus menyakiti, betul-betul mengasyikkan. Dan, untunglah selama di Jepang ini, saya rajin membaca Wikipedia, koran-koran online, blog-blog sejarah, dll, yang membuat saya serasa lebih mudah meliuk-liuk ikut memainkan tema. Dengan bahasa Jepang yang pas-pasan, dan wajah yang selalu berpura-pura paham semua kata-kata Jepang beliau-beliau, sejauh ini aman-aman saja Proyek Geyol Oldies 2013-2014…

      Brondong masa kecil saya itu lazim saya sebut ‘urog-urog’ karena suara botol yang diputar-putar oleh pencari ember bekas. Hingga sekarang, saya masih terkenang aroma harum brondong jagung buruk rupa plus aroma kertas buram yang jadi kerucut/contong wadah brondong itu…

      Semoga hingga masa senja paling senja eyang-eyang tercinta ini dan juga masa dewasa anak-anak atau cucu-cucu beliau yang sempat saya temui sejauh ini, kesan tentang ‘Pu-san si Brondong Manis’ merek Ngawi ini masih bisa disenyum kekonyolan dan suara berisiknya meskipun si Brondong sudah kembali berjibaku balapan dengan bus Sugeng Rahayu (ex. Sumber Kencono) menuju sekolah selepas Maret nanti…

Advertisements

JUST CALL ME ‘PHOE’

HGFIMG_1491  ayah mum - 1 - Copy DSCN0077

PHOTOS IN NEGERI SAKURA (..TA)

Nama saya Puthut Prehantoro. Puthut berarti ‘murid’ (Jawa Kuno) dan Prehantoro, kata ayah saya, berasal dari kata ‘prihatin’  (Jawa). Prihatin mempunyai dua arti. Pertama, prihatin berarti ‘kasihan, memprihatinkan’ dan yang kedua berarti ‘berjuang, lelaku prihatin, mendekatkan diri pada Tuhan’. Dan memang, saya adalah orang yang suka belajar, keadaannya selalu memprihatikan secara fisik dan kebendaan, namun insyaallah saya berusaha mendekat kepada-Nya (semoga!) meski kadang bandhel jika sedang berada di sebuah lingkungan tertentu. Hobi saya adalah berkeliling kota di malam hari bersama istri saya yang cantik hati dan anak-anak saya yang multilinguist (semoga!) untuk mencari orang gila, orang yang kemalaman di jalan, kakek nenek jompo yang tidur di emperan toko, dan semacamnya. Alhamdulillah, istri saya pun juga termasuk jajaran orang yang ‘cukup gila’ karena berani menjawab ‘iya, kita menikah’ pada H+2 dari pertemuan pertama kami pada tanggal 24 Agustus 2006. Sebuah proses yang cukup ‘gila’ yang sebenarnya dilandasi sebuah’ ‘kewarasan’ tingkat tinggi…

Saya sangat menghargai masa lalu, karena bagi saya: Past is present from God, because our presence in this present time is because of many things happening in the past…